Sisi Gelap Terang “Jatim Specta Night Carnival” di Blitar

IMG_0035
Catatan Henri Nurcahyo

Jatim Specta Night Carnival (JSNC) adalah pawai budaya tahunan yang secara khusus diselenggarakan pada malam hari. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur sebagai penyelenggaranya memang sengaja memilih waktu malam agar event ini berbeda dengan kebanyakan pawai yang serupa dan sudah banyak dilaksanakan di mana-mana. Meskipun, Sumenep misalnya, sebetulnya sudah punya tradisi menggelar lomba musik dhuk-dhuk dalam bentuk pawai yang juga dilakukan pada malam hari.

Sebagai sebuah upaya untuk membuat acara yang spektakuler (sebagaimana namanya) maka acara yang memang sudah tampil bagus (terang) ini tidak tertutup pula adanya sisi-sisi gelap (kekurangan) yang setidaknya patut direnungkan sebagai bahan evaluasi. Tentu saja, kalau artikel ini memang pantas dijadikan rujukan masukan.

JSNC pertama kali diselenggarakan di Ngawi pada tahun 2014, menyusul tahun berikutnya di kabupaten Banyuwangi, dan kali ini (30/7) diselenggarakan di Blitar yang sekaligus dijadikan rangkaian mata acara Hari Jadi Kabupaten Blitar ke 692 pada tanggal 5 Agustus mendatang. Pawai ini diikuti oleh 28 peserta kab/kota di Jawa Timur ditambah peserta dari Kabupaten Blitar selaku pihak tuan rumah yang tidak diikutkan dalam penilaian, melainkan langsung diberikan penghargaan khusus. Demikian pula satu peserta tamu dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang diwakili oleh kabupaten Bantul. Yang juga berbeda dengan pawai sebelumnya, kali ini peserta diberikan tema untuk merespon kabupaten Blitar sebagai tuan rumah yang memiliki potensi berupa kekayaan candi dan situs cagar budaya.

Sebagaimana hakekat sebuah pawai, maka materi kegiatan adalah berupa arak-arakan, fashion street, kendaraan hias, yang bersifat apresiatif, atraktif, demonstratif, kompetitif dan spektakuler. Oleh karena itu maka koreografi musti digarap sedemikian rupa dalam bentuk gerak yang dapat dilakukan sambil berjalan; Gerak yang memunculkan efek visual jika dilakukan secara kolosal atau dengan menggunaka properti; Komposisi ruang yang atraktif sehingga dapat dinikmati dari jarak yang cukup jauh; Gerak yang dapat mempunyai efek berjalan di tempat dan/atau berjalan cepat. Dan yang penting, koreografi harus sesuai dengan gagasan pawai.

HASIL PENILAIAN
Dewan Pengamat yang bertugas terdiri dari Drs. Arief Rofiq, MSi (STKW), Soekatno, SSn, MSn (Taman Budaya Jatim) dan Aries Setiawan, MSn (ISI Solo), akhirnya menetapkan Kabupaten Nganjuk, Lumajang dan Sidoarjo berhasil keluar menjadi juara bersama tanpa jenjang karena berhasil mendapatkan nilai tertinggi dan dinyatakan sebagai Tiga Penyaji Terspecta. Mereka mendapatkan Trofi Gubernur Jatim dan hadiah uang pembinaan masing-masing sebesar Tp 10 juta, disamping hadiah tambahan dari PT. Peti Kemas.

Selain itu juga ditetapkan 10 peserta terbaik, 10 peserta unggulan, 4 peserta harapan, dan 5 peserta dengan kendaraan hias terbaik. Masing-masing mendapatkan piagam dan trofi Kepala Dinas Budpar Jatim. Sedangkan satu penghargaan khusus yang diberikan kepada peserta Kabupaten Blitar sebagai tuan rumah, mendapatkan Piala Gubernur Jatim. Hadiah tambahan dari PT. Peti Kemas juga diberikan kepada 10 Peserta Terbaik.

Sepuluh (10) Penyaji Terbaik tanpa jenjang adalah sebagai berikut: Kab. Mojokerto, Kab. Pamekasan, Kota Blitar, Kota Kediri, Kab. Trenggalek, Kota Malang, Kab. Magetan, Kab. Gresik, Kab. Jember dan kota Surabaya.
Sepuluh (10) Penyaji Unggulan tanpa jenjang yaitu: Kab Malang, Kab. Bojonegoro, Kab Probolinggo, Kota Mojokerto, Kab Pacitan, Kota Madiun, Kota Pasuruan, Kab Tuban, Kab Ngawi dan Kab Sampang.

Empat (4) Penyaji Harapan tanpa jenjang adalah: Kab. Sumenep, Kab. Bangkalan, Kab. Madiun dan Kab. Lamongan.
Yang menarik, meski Sumenep dan Lamongan tergolong dalam 4 peserta yang mendapat nilai terendah, namun keduanya berhasil meraih penghargaan dalam katagori Kendaraan Hias terbaik tanpa jenjang bersama dengan penyaji dari Kab Pamekasan, Kota Malang dan Kab Tuban.
IMG_9776
CATATAN UNTUK PESERTA
1. Penampilan peserta tuan rumah memang mempesona. Tidak salah dijadikan pembuka dan tidak perlu dilakukan penilaian beserta peserta lainnya. Sementara peserta tamu dari DIY kurang greget, hanya tampil datar. Sedangkan Kabupaten Malang secara mengejutkan mengeluarkan Singo Ulung yang mengingatkan pada kesenian Bondowoso. Entah di Malang apa sebutannya, mungkin bukan Singo Ulung. Dan untungnya, tidak ada peserta dari Bondowoso dalam acara pawai ini.

2. Masih ada yang menyepelekan penampilan peralatan sound system yang dibawa dengan kendaraan seadanya, bahkan ada petugas yang hanya mengenakan kaos singlet tanpa lengan (Kab. Sumenep). Kereta kencana super mewah Sumenep ini memang menang namun sayangnya diikuti oleh pembawa genset dengan becak yang tampil apa adanya. Masih ada yang tidak memposisikan petugas pengiring (offisial) sebagai bagian dari pertunjukan pawai. Mereka cenderung berjalan sekenanya, mondar-mandir yang mengganggu koreografi, juga yang teriak-teriak memberi perintah pemain.

3. Lantaran ini adalah acara malam hari maka aspek tatacahaya seharusnya menjadi perhatian utama. Karena itu peserta harus mampu menghadirkan pencahayaan yang memikat, bukan hanya mengandalkan sorot lampu yang minimal dari kendaraan pengiring. Misalnya saja, sudah ada peserta yang memberikan hiasan lampu-lampu kecil dalam rumbai-rumbai busana (Kota Surabaya), atau lidah yang menyala pada properti naga dan pecut (Trenggalek), busana yang dililit rangkaian lampu kecil (Gresik), namun secara keseluruhan aspek tatacahaya ini belum dimaksimalkan. Toh masih ada saja yang tampil seolah-olah pawai siang hari dengan busana yang meredam cahaya, namun sebaliknya ada peserta yang “sadar busana” sehingga menggunakan kain transparan yang sanggup memantulkan cahaya (Kabupaten Magetan).

4. Soal kereta yang bercahaya ini Kab Malang juga yang tampil dengan kereta bertatacahaya sehingga mengesankan pada malam hari, demikian pula Bojonegoro dengan tampilan kereta yang artistik, juga Pamekasan, Kota Malang dan Sumenep. Sementara Lumajang tampil dengan kereta yang sangat digarap sehingga terkesan megah.

5. Dalam hal aspek kejutan, kontingen Kabupaten Mojokerto (?) berhasil membuat penonton benar-benar takjub dan terkejut karena ledakan petasan dan atraksi kembang api. Demikian pula Kota Malang yang memainkan atraksi sembur api. Dan Jember, yang dikenal sebagai pelopor pawai dengan nama Jember Fashion Carnival (JFC), tidak menunjukkan kehebatannya dalam pawai kali ini. Bisa jadi kontingen yang dikirim memang bukan andalan dalam JFC yang ketenarannya sudah menjelajah ke mancanegara.

6. Kontingen Sumenep, dari dulu memang dikenal memiliki kereta hias yang bagus. Ini sudah tradisi Sumenep (Madura umumnya) yang digelar dalam tradisi Festival Musik Dhuk-dhuk atau Tongtong. Secara visual memang bagus, terkesan mewah dan enak dijadikan tontonan sebuah pawai. Itu sebabnya model kereta hias seperti ini lantas ditiru mentah-mentah oleh Kabupaten Probolinggo, Jember dan beberapa peserta lain. Namun Jember melakukan modifikasi dengan memberi hiasan lampion-lampion bercahaya di beberapa bagian kereta. Hanya sayangnya, kali ini peserta Sumenep tidak melakukan koreografi yang memadai sehingga menempatkan peserta Sumenep dalam 4 peserta dengan nilai terendah (Penyaji Harapan).

7. Karena penilaian dilakukan di tiga lokasi (area start, di tengah perjalanan di area finish atau panggung kehormatan) maka peserta harus tampil maksimal sejak pemberangkatan hingga mencapai garis finish. Dan sayangnya, peserta dari Nganjuk kurang atraktif ketika berada di depan panggung kehormatan. Barangkali sejak start dan selama perjalanan memang tampil bagus sehingga Kabupaten Nganjuk berhasil terpilih menjadi salah satu dari tiga Peserta Terspecta alias juara.

8. Penampilan peserta terdiri dari sajian atraksi dalam koreografi berjalan dan menjadi satu paket dengan kendaraan hias. Dan ternyata, satu-satunya peserta yang tidak menyertakan kendaraan hias adalah Kota Surabaya. Namun entah kenapa Kota Surabaya dapat terpilih menjadi salah satu dari 10 Penyaji Terbaik Tanpa Jenjang. Sebagaimana juga peserta dari Kabupaten Nganjuk, penampilan kota Surabaya di depan panggung kehormatan juga tidak mengesankan.

9. Sementara Sidoarjo, salah satu dari tiga juara, mampu tampil mempesona lantaran menghadirkan puluhan anak-anak sebagai peraganya. Kehadiran anak-anak ini tampil menyegarkan, hijau-hijau, melambangkan padi yang sedang tumbuh, sebagaimana tema yang diangkat yaitu mengenai legenda Candi Pari. Hanya sayangnya, keberadaan Candi Pari hanya dihadirkan sebatas “mengikuti tema” saja. Tidak ada penggarapan artistik dengan sosok kendaraan candi itu sendiri, malah menghadirkan dua kendaraan hias lain, termasuk replika perahu, sebagai bagian dari koreografi.

CATATAN PENYELENGGARAAN
1. Pelaksanaan Gladi Bersih yang dilakukan H-1 malam hari ternyata tidak berlangsung benar-benar “bersih” karena tidak steril dari penonton sehingga menyulitkan dilakukan pengamatan untuk memberikan masukan. Melihat pelaksanaannya, ini belum dapat disebut Gladi Bersih, melainkan hanya Gladi Kotor.

2. Lokasi atraksi di depan panggung kehormatan sangat sempit, hanya menggunakan luasan jalan raya dua lajur yang masih harus dipotong untuk penempatan sebagian panggung. Mengapa tidak membuat arena di tanah lapang yang masih sangat luas di depan gedung Kantor Bupati? Alur peserta seharusnya dapat dibelokkan masuk ke lapangan dan keluar lagi sehingga berjalan melengkung menuju jalan raya. Di lapangan inilah dapat dibangun tribun untuk penonton VIP sehingga dapat menyaksikan dengan leluasa pertunjukan peserta. Kalau toh ada alasan supaya panggung utama memiliki latar belakang tulisan “Kantor Kabupaten” rasanya alasan itu terlalu sepele karena pada prakteknya toh tulisan itu tertutup oleh tamu. Justru dengan lokasi pembukaan di lapangan dapat dibuatkan backdrop besar dengan foto-foto pajangan pejabat dan ilustrasi yang menarik.

3. Lantaran menggunakan jalanan umum sebagai atraksi pembukaan, juga memberikan ruang yang kurang leluasa bagi pengisi acara yang banyak menggunakan kibaran bendera dan berlarian kesana kemari. Sajian pertunjukan kolosal gagal dihadirkan di space yang sempit itu sehingga terkesan kruntelan alias penuh sesak ketika dihadirkan puluhan bahkan ratusan pemain sekaligus.

4. Upacara pembukaan nampaknya belum dirancang sempurna. Ketika Wakil Gubernur hendak menabuh jimbe sebagai tanda pembukaan, posisinya tidak mendapatkan sorotan lampu yang memadai, cenderung agak gelap. Dan celakanya, deretan penari malah berjajar di depannya sehingga menutupi Wakil Gubernur. Mengapa komposisi penari tidak diatur sedemikian rupa sehingga menjadikan prosesi pembukaan itu sebagai sentralnya?

5. Sebagai sebuah tontonan arak-arakan, dimanakah posisi yang nyaman untuk penonton? Nampaknya soal yang satu ini belum terpikirkan. Yang penting tamu-tamu VIP dapat menyaksikan dengan baik, sementara ratusan atau bahkan ribuan penonton lain dari kalangan masyarakat umum tidak terpikirkan lokasinya. Barangkali perlu dipikirkan adanya tribun-tribun sederhana di areal tertentu (meski tidak harus di sepanjang jalan) agar penonton dapat duduk nyaman menyaksikannya. Atau diatur sedemikian rupa sehingga penonton yang ada di deretan depan tidak menghalangi pandangan penonton di belakangnya. Kelemahan utama dari sebuah pawai adalah berjubelnya penonton sehingga malah mengganggu jalannya pawai itu sendiri.

6. Dengan alasan “menyenangkan” semua peserta maka masing-masing peserta mendapatkan penghargaan. Semua peserta adalah juara dengan sebutan yang berbeda. Mulai dari 3 Terspecta, 10 Terbaik, 10 Unggulan dan 4 Harapan, maka tidak ada peserta yang “kalah” atau tidak menjadi juara. Apakah ini memuaskan? Jelas tidak, karena mereka pasti tahu bahwa meskipun dinyatakan sebagai Penyaji Harapan (misalnya) toh kenyataannya mereka kalah dan hanya menempati peringkat buncit dari semua peserta. Pemilihan dengan katagori Kendaraan Hias Terbaik sebetulnya memberikan kesenangan tersendiri. Barangkali perlu ada katagori Musik Terbaik, Busana Terbaik, atau Tata Cahaya Terbaik, yang tentu saja dipilihkan bukan dari yang juara. Dengan demikian peserta memiliki peluang yang lebih banyak untuk menjadi yang Terbaik, dan bukan mendapatkan kejuaraan semu.

7. Status dewan pengamat atau juri agaknya perlu dikritisi. Dua dari tiga pengamat adalah murni dari internal Disbudpar Provinsi Jatim sendiri. Arif Rofiq adalah kepala UPT STKW Surabaya, sedangkan Sukatno adalah kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, dimana kedua instansi tersebut berada dalam satu payung Disbudpar. Terlepas dari kompetensi mereka pribadi yang memang memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian, sesungguhnya mereka tidak etis ditempatkan menjadi pengamat atau juri. Logikanya, bagaimana mungkin sebuah hajatan yang digelar oleh pihak pemerintah dengan peserta yang juga mewakili pemerintah daerah masing-masing, lantas yang menilai masih juga dari kalangan pemerintah sendiri? Hal ini berbeda dengan dua JSNC sebelumnya yang sepenuhnya dinilai oleh pihak diluar pemerintah dan bukan pejabat internal.

8. Barangkali perlu dipikirkan bahwa hajatan sebesar ini tidak dilakukan sendiri oleh instansi pemerintah melainkan melibatkan event organizer (EO) karena tugas utama pemerintah adalah memfasilitasi dan memberdayakan potensi masyarakat. Kalau toh ada kekhawatiran kemampuan EO untuk menjalankan pekerjaan dengan baik, maka juga menjadi tugas pemerintah meningkatkan kemampuan mereka dan bukan memonopoli semua pekerjaan. Atau, selama ini institusi pemerintah memang sedang nyaman berfungsi sebagai EO? Mungkinkah ada keengganan melepaskan pekerjaan pada EO karena dengan cara seperti ini ada “tambahan pendapatan” bagi para stafnya? Mudah-mudahan dugaan ini keliru.

9. Terkait dengan item (7) dan (8) tersebut di atas maka sesungguhnya menjadi tugas pemerintah untuk memberdayakan masyarakat, tidak lantas asyik dengan dirinya sendiri, tidak asal menyelenggarakan kegiatan demi memuaskan selera pimpinan belaka. Bahwasanya pemerintah bisa menjalankan kegiatan itu karena memiliki kewenangan mengelola dana yang berasal dari pajak rakyat. Karena itulah rakyat harus diposisikan sebagai subjek yang berhak menikmati pekerjaan yang dilakukan pemerintah, bukan menjadikan masyarakat sebagai objek pelengkap penderita belaka. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: