Remang-remang 50 Tahun Aksera

OLEH HENRI NURCAHYO
aksera-alumni-foto-henri-nurcahyo
Nyaris tidak banyak yang tahu, hampir 50 (lima puluh) tahun yang lalu pernah lahir Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Meski hanya berumur 5 tahun, Aksera mampu melahirkan para perupa yang tangguh, memiliki karakter kuat dan sanggup bertarung sendirian di medan persilatan seni rupa modern Indonesia. Aksera melahirkan kemandirian, bukan sebuah madzab yang cenderung seragam. Justru keanekaragaman itulah yang menjadi kekuatannya. Aksera adalah sebuah mitos dalam khasanah seni rupa di Surabaya, bahkan bisa jadi di Indonesia.

Seminggu yang lalu (4/9/16), dalam remang-remang cahaya lampu selasar Taman Budaya Jawa Timur, sejumlah alumni Aksera menggelar reuni sekaligus menandai peluncuran buku “Akademi Seni Rupa Surabaya dalam Sejarah dan Dinamikanya” yang disusun oleh Hamid Nabhan. Lantaran persoalan teknis, peristiwa ini berlangsung sangat sederhana, tanpa pengeras suara, hingga tenggelam oleh kebisingan dari acara yang berlangsung di pendopo. Sungguh memprihatinkan. Semula memang hendak dilangsungkan di lantai 2 kantor Dewan Kesenian Jatim, namun karena banyak yang usia lanjut, acara diboyong ke selasar bawah.

Sejarah mencatat, kelebihan Aksera adalah berhasil melahirkan seniman-seniman yang menjadi dirinya sendiri dan malah (berusaha) berbeda satu sama lain. Tidak ada gaya atau madzab Aksera dalam karya-karyanya. Menyebut nama-nama produk Aksera sebagai contoh, perhatikan gaya lukisan Makhfoed, Dwijo Sukatmo, Nuzurlis Koto, Nunung WS, Serudi Sera, Sugeng, AES Su’ud, Arifin Hidayat, Thalib Prasodjo, Arie Setiawan, juga Hardi. Demikian pula (mantan) dosen-dosennya, antara lain M. Daryono, Amang Rahman, M. Roeslan, bahkan Krishna Mustajab dikenal bukan hanya melukis namun melahirkan genre seni rupa fotografi. Demikian pula Gatut Kusumo lebih dikenal sebagai sineas dan penulis.

Aksera adalah sebuah institusi pendidikan tinggi seni rupa (katakanlah semacam ASRI dulu) yang dijalankan dengan cara-cara informal penuh suasana kekeluargaan. Tidak ada jarak hirarkis antara dosen dan mahasiswa. Bahkan yang bukan termasuk mahasiswa pun bisa juga belajar bersama. Nampaknya pengelolaan Aksera lebih bernuansa nyeniman ketimbang betul-betul dikelola secara formal akademis sebagaimana perguruan tinggi pada umumnya. Selanjutnya, Aksera berubah ujud menjadi kursus melukis bernama “Sekolah Minggu”, dan akhirnya hanya terdengar nama Aksera dari beberapa pelukis yang pernah menjadi dosen atau mahasiswanya.

Menurut Hotman M. Siahaan dalam buku yang diterbitkan Nabhan Galeri itu, Aksera adalah institusi yang berfungsi sebagai minoritas kreatif di dunia seni rupa bahkan kesenian pada umumnya di Surabaya dan Jawa Timur. Sebagaimana kesaksian Nunung WS (nama aslinya adalah Siti Nurbaja), alumni angkatan pertama (1967), “aku merasa bukan lagi mahasiswa seni tapi aku adalah orang yang sedang berguru.” Demikian pula Asro Serudi, alumnus angkatan 1971 yang kini bermukim di Prancis, “suasana di Aksera dulu telah mempengaruhi kehidupan saya. Suasana belajar mengajarnya sungguh menyejukkan. Pergaulan dengan dosen-dosen berlangsung tidak formal, tidak ada sekat-sekat, sangat akrab dan tidak berjarak.”
14238360_10208516694649811_5557054183023517133_n
Kebebasan berkarya memang menjadi ciri Aksera. Hal ini dibenarkan Nuzurlis Koto (angkatan 1967), bahwa Aksera membuka diri wujud kesenirupaan terhadap kebebasan pribadi. Basic kesenirupaan diutamakan sehingga karya-karya perupa muda jadi beragam corak.

Lahir dalam suasana chaos pasca kerusuhan 1965-1966, Aksera memang sebuah habitat buat menggembleng bibit-bibit seniman yang bukan sekadar tukang gambar. Ada Gatut Kusumo, salah satu pendiri Aksera, yang mengajarkan filsafat, M. Roeslan memberi materi Ilmu Jiwa, matakuliah Mimbar Kemanusiaan dibawah koordinator oleh D. Soebali, Bahasa Inggris oleh Thea Soesetia (yang kemudian menjadi isteri Gatut Kusumo), sedangkan matakuliah bidang-bidang kesenian diberikan oleh Budi Hantana, Darjono, Krishna Mustadjab, Indra Hadi Kusuma, dan sebagainya. Di sela-sela kuliah formal banyak digelar diskusi dengan seniman-seniman ternama waktu itu seperti Affandi, Nashar, Rusli, Kirdjomuljo (sastrawan), Gerson Poyk (penulis), Dan Soewarjono (kritikus seni) dan sebagainya.

Aksera mengalami masa surut mulai tahun 1971-1972, ketika sebagai perguruan tinggi tidak mampu memenuhi persyaratan formalitas akademis. Para dosennya pun kemudian lebih sibuk melahirkan dan mengurusi Dewan Kesenian Surabaya (DKS) di kompleks Balai Pemuda yang juga menjadi kampus Aksera. Sebelumnya, menurut kesaksian Nuzurlis Koto, aktivitas Aksera diawali di SMA Kompleks Wijaya Kusuma, Gedung Mayangkara, Gedung LPPUK Jl. Bubutan, Taman Siswa di Jalan Wuni, dan akhirnya mendapat hibah sebuah bangunan di Balai Pemuda karena keikutsertaan dalam kepanitiaan PON VII seksi publikasi. Sejarah luar biasa ditorehkan oleh mahasiswa Aksera, baru kali itulah peristiwa olahraga dalam PON diabadikan dalam bentuk lukisan sketsa.

Ketika Balai Pemuda hendak direnovasi, keberadaan Sanggar Akserapun tergusur namun justru mendapat ganti dari Pemerintah Kota Surabaya yang lebih bagus berupa sebuah rumah dua kapling di Dukuh Kupang 27 No 20. Pada peresmian gedung tahun 1988 itulah Aksera hendak dibangkitkan kembali. Didirikanlah Lembaga Pengembangan Seni Rupa “Aksera”. Reuni kali pertama dilangsungkan, beberapa pameran lukisan digelar, diskusi sering diadakan, kursus melukis dibuka, dan gedung itu menjadi sarana workshop para perupa, termasuk kalangan seniman teater dan sastra.

Tetapi perlahan namun pasti, aktivitas Aksera mulai surut. Disamping kesulitan dana, tidak ada yang sanggup mengelola agar roda kegiatan tetap berjalan. Beberapa kali dicoba bangun lagi, namun masih juga tidak berhasil. Hingga akhirnya, beberapa tahun belakangan ini bangunan yang diberi nama “Gedung Krishna Mustajab” itu terlantar tak ada penghuni dan aktivitas sama sekali. Kosong tak terawat.

Ketika minggu lalu kembali diselenggarakan reuni dalam suasana yang remang-remang, hal ini seolah menggambarkan kondisi Aksera saat ini. Karena itu, catatan Hotman M. Siahaan ini sungguh mengena: “Generasi sudah berganti, zaman sudah berubah. Yang tersisa hanya tapak sejarah, bahwa di kota ini pernah ada lembaga kreatif yang begitu membahana, menjadi inspirasi bagi proses kreatif kesenirupaan, yang telah menancapkan pilar kokoh bagi kehidupan kesenian di kota ini. Pilar kokoh itu masih tegak berdiri di sana, namun hanya bisa dibayangkan oleh beberapa orang yang memiliki kepedulian, bahwa peradaban estetika kota tanpa keberadaan institusi kreatif hanyalah peradaban estetika yang gersang.” (*)

Henri Nurcahyo, praktisi budaya

catatan: Naskah ini sudah dimuat di Jawa Pos, 11 September 2016

3 Tanggapan

  1. Wah, klo boleh, aq mw dong sekedar berkunjung ke Aksera…^.^
    Klo sempat, jgn sungkan2 main ke anastasyapratiwi.wordpress.com
    Itu rumah mayaku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: