Obituari Rudi Isbandi: Pelukis Pemikir, Melukis Tanpa Berpikir

Oleh HENRI NURCAHYO

rudi-isbandi-dan-tedja-suminar-keduanya-kini-bersatu-dalam-keabadian-foto-henri-nurcahyo-for-jawa-pos

Rudi Isbandi (kiri) bersama Tedja Suminar di Galeri Surabaya


Belum genap seratus hari Tedja Suminar meninggal dunia (80 tahun), Rudi Isbandi menyusulnya ke alam baka (79 tahun). Maka habislah sudah generasi tonggak seni rupa Surabaya. Setelah Karyono Ys, Krishna Mustadjab, M. Daryono, M. Roeslan, Amang Rahman, O.H. Supono, Lim Keng dan Gatut Kusumo yang sebetulnya juga pelukis, disamping sastrawan dan lebih dikenal sebagai sineas. Kini disusul Tedja Suminar dan Rudi Isbandi yang wafat seminggu yang lalu (18/9).

Tahun 1983 Rudi dan Tedja berlanglang buana ke Irian Jaya (Papua sekarang) selama dua setengah bulan atas undangan Pemda setempat. Hasilnya, tentu saja puluhan lukisan yang kemudian dipamerkan di Jayapura dan Surabaya. Tetapi yang patut dicatat adalah karya yang dihasilkan Rudi Isbandi. Pelukis abstrak itu mengaku, “intuisi saya tidak mampu menuntun gairah mencipta dengan abstraksi seperti yang biasa saya hayati. Segalanya terlampau indah untuk diabstraksikan. Jadi begitulah, kalau dulu saya melukis dari puncak ketinggian intelegensi dan abstraksi, sekarang saya melukis seperti dari ujung pancaindera seorang awam.”

Dalam perjalanan keseniannya, setelah melewati periode “Ritme”, yaitu citra abstrak yang masih terlihat sosok-sosok dan stroke tebal, periodenya yang terkenal adalah lukisan abstrak tanpa bentuk sama sekali (periode Nuansa). Sepintas hanya seperti dinding berlumut atau semacam itu.

Tahun 1986-1987, ketika saya rajin berguru padanya sebagai wartawan seni budaya, saya masih ingat Rudi memberi pelajaran (kira-kira) begini: “Dik Henri tahu, kalau melihat lukisan itu yang diperhatikan apanya?” Saya tidak menjawab, takut salah. Dan Rudi meneruskan sendiri, “pasti objek utamanya kan? Kalau gambar pemandangan yang diperhatikan adalah sosok manusia, sawah, gunung, pohon dan sebagainya.” Saya membenarkan. “Nah yang saya lukis itu adalah sepetak kecil langitnya, atau sepotong tanah yang ada di pemandangan itu.”

Terkait dengan lukisan abstraknya ini, ayah dari dua putra-puteri ini malah “mencemburui” pekerjaan tukang bangunan yang ketika membangun rumah, kemudian melabur kaca dengan cairan kapur menggunakan tangannya. “Coba perhatikan Dik, dia melakukan itu tanpa berpikir sama sekali akan membuat apa. Yang dia lakukan hanya menandai bahwa di situ sudah ada kaca agar tidak ditabrak orang,” jelasnya. Rudi Isbandi tak mampu menutupi kekagumannya terhadap hasil karya tukang bangunan itu.

Ada yang bilang bahwa lukisan Rudi Isbandi makin lama makin ampang dalam wadagnya. Kekaburan yang menjadi ciri dari lukisannya kian menukik pada kesirnaan wujud, tak jelas. Tetapi greget tetap bertahan, bahkan terasa ada keteduhan di balik keremang-remangan sapuan kanvasnya. Dari dalam kanvas Rudi itulah terpendar adanya suasana lengang dan seni yang mendorong orang untuk merenungkan hal-hal yang lebih baik. Karena baginya, keindahan itu bersifat batin, yaitu keindahan dari kebenaran etis-religius. Bukan sekadar keindahan wujud, estetis. Bahkan dia pernah berucap, suatu ketika lukisannya nanti akan berupa kanvas kosong tanpa coretan yang berarti. Meskipun, Rudi menolak menjadi nihilis.

“Bagaimana kalau saya katakan, saya tidak menemukan apa-apa setelah mengamati lukisan anda?” tanya seorang wartawan. “Ya, barangkali memang demikian. Seorang yang buta huruf tak mungkin bisa membaca menghadapi tulisan,” jawaban yang telak.

Pelukis kelahiran Yogyakarta 2 Januari 1937 itu memang berusaha membebaskan pikiran sama sekali ketika melukis. Sepenuhnya digerakkan oleh insting dan intuisinya. Insting adalah kemampuan khusus tertentu yang merupakan pembawaan alami yang tidak disadari dan tidak perlu dipelajari yang mendorong untuk berbuat sesuatu berdasarkan kemampuannya. Sedangkan intuisi adalah kemampuan untuk mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan dan dipelajari, atau juga dapat diartikan dengan bisikan hati atau gerak hati. Menurutnya, seluruh seni lahir dari intuisi, tidak mengalir dari pertimbangan-pertimbangan rasional. Bukan akal pikiran, tetapi dari perasaan.
Itu sebabnya Rudi menyebut apa yang dimilikinya adalah gawan bayi yaitu sesuatu yang memang sudah ada dalam dirinya. Tentu saja, kesemuanya itu sudah melewati penguasaan dasar seni rupa karena Rudi sendiri pernah belajar di Sanggar Pelukis Rakyat di Yogyakarta (1950-1953), sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Surabaya.

Pemikir Kritis
Apa yang dilakukannya dengan membebaskan pikiran ketika melukis ini berkebalikan dengan kesehariannya. Rudi justru sangat rajin bergumul secara intelektual dengan berbagai pemikiran seni budaya, lingkungan dan filosofi kehidupan. Tahun 1970-1980an Rudi adalah pemikir kritis seni rupa Indonesia dengan menuliskannya di beberapa media massa nasional. Banyak wartawan yang melakukan wawancara intensif dengannya. Sebagian hasil pemikirannya itu antara lain dibukukan dalam “Percakapan dengan Rudi Isbandi” (Fajar Harapan, 1985).

Ketika sastrawan Muhammad Ali (alm) mewawancarainya untuk harian Berita Buana, Rudi menolak untuk menjawab pertanyaan tentang masa depan Seni Lukis Indonesia. “Saya tidak mempunyai gagasan mengenai hal itu,” elaknya. Karena bagi lelaki yang rambutnya tidak pernah disisir ini, “janganlah setiap generasi terlalu bernafsu membuat batasan-batasan, yang bisa-bisa malah akan menjerat generasi muda dan menghambat kreativitas mereka.” Bagi Rudi, serahkan saja masa depan kepada generasi mendatang sendiri untuk membentuknya. Hak kita ialah menciptakan yang citra terbaik zaman ini.

Peraih penghargaan Keluarga Harmonis yang sering berjalan kaki ini selalu memposisikan diri memperhatikan serius sesuatu yang oleh orang kebanyakan diabaikan. Ia telusuri kampung demi kampung, memasuki gang-gang sempit, jalan setapak dan jalan ramai dari Wonokromo hingga Perak. Rudi betah seharian penuh nongkrong di seputaran pasar loak. Di situlah sekolah kehidupan baginya, yang kemudian melahirkan periode kolase pada karya-karya terakhirnya. Di atas kanvasnya, terpajang berbagai benda terbuang, usang dan rusak dia perlakukan sedemikian rupa bagaikan potongan sejarah yang terlupakan.

Dan kini, pelukis yang suka burung itu telah pergi untuk selama-lamanya. Sekitar setahun yang lalu, isterinya meninggal dunia di pangkuan Rudi sendiri. Sejak itulah Rudi limbung, tak berdaya, tak berkarya, hingga berniat menjual museum pribadinya. Anak lelakinya yang dokter hewan, sudah lama tiada. Hanya tinggal anak perempuannya, yang bermukim di Bekasi. Di sanalah kemudian Rudi tinggal dan meninggal dunia. Rudi Isbandi, kini telah menemukan kesunyiannya sendiri, sunyi yang abadi dalam alam kelanggengan. (*)

Henri Nurcahyo, praktisi budaya Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: