Pernikahan Jahanam, Alternatif Ludruk Kendho Kenceng

Catatan Henri Nurcahyo
01-800x533
Pergelaran ludruk dengan lakon “Pernikahan Jahanam” memang pilihan judul yang diluar kebiasaan pementasan ludruk pada umumnya, meski bukan hal baru sama sekali. Disamping itu, “Kendho Kenceng” merupakan nama yang unik untuk sebuah kelompok ludruk, yang biasanya menggunakan kata “Budaya”. Dan itulah yang terjadi di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKB Jatim) Malang, Sabtu lalu (19/11).

Garis besar lakon ini berkisah perihal sepasang anak manusia yang gagal menikah lantaran muncul seorang lelaki yang mengaku sebagai ayah kandung calon mempelai puteri, Kinasih (Triwida Wulandari). Lelaki bernama Suntoro (Sigit Priyo Utomo) itu mengatakan, bahwa seharusnya dialah yang lebih berhak menikahkan puterinya. Maka terbongkarlah rahasia yang terpendam selama 20 tahun, bahwa Kinasih memang hasil hubungan diluar nikah antara Suntoro dengan Sulastri, ibu kandungnya. Calon mempelai laki-laki, Purnomo (Arie W Omen) langsung membatalkan pernikahan tersebut lantaran tidak ingin menikah dengan anak haram.

Lakon seperti ini memang berbeda dengan lakon tradisi dalam ludruk seperti Sarip Tambakoso, Sakerah, dan sebagainya. Konon kisah ini berangkat dari kejadian sebenarnya, meski tidak persis seperti itu, berdasarkan pengalaman Sutak Wardhiono yang menggagasnya. Sutak pula yang menulis naskah dan menyutradarainya. Ya naskah, memang ludruk ini menggunakan naskah seperti pentas teater modern. Justru di sinilah muncul tantangan menarik, seberapa luas ruang untuk improvisasi dalam ludruk bernaskah ini. Sejauh mana pemainnya tidak menjadi robot yang menghapal naskah. Kekuatan ludruk tradisi itu pada improvisasi, sementara dalam pemain teater modern tetap dituntut menguasai improvisasi terutama untuk mengatasi hal-hal yang tak terduga di atas panggung.
02-800x533
Kendho Kenceng (KK) memang bukan ludruk biasa. Hampir semua pemainnya adalah mahasiswa. Dalam kesempatan sebelumnya pernah juga melibatkan pemain anak-anak SMP maupun SMA serta para seniman muda dan tua serta kalangan pemain teater, sehingga KK menjadi ludruk lintas generasi. Bahkan KK pernah masuk kampus bekerjasama dengan Laboratorium Drama Jurusan Sastra Indonesia menggelar pertunjukan ludruk yang melibatkan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia sebagai pemerannya.

Kendho Kenceng (Bahasa Jawa) itu dalam Bahasa Indonesia dipahami sebagai ketegangan sebuah tali yang direntangkan (Kenceng) dan manakala ketegangan itu dikendorkan (Kendho). Kendho Kenceng (KK) memang bukan kelompok ludruk tradisional, malah sebutan yang tepat adalah Komunitas Kendho Kenceng, atau lebih tepat lagi Kuwalisi Kendho Kenceng (KKK). Ya Kuwalisi, mirip Koalisi, yang dimaksudkan sebagai kuwali dalam Bahasa Jawa yang bermakna wadah dari gerabah untuk mewadahi sesuatu yang bersifat cair. Jadi Kualisi adalah Kuwali diiseni (diisi).
04-800x533
Menurut Sutak Wardhiono, pimpinan KK, kehadiran kelompok ini pada mulanya berawal dari kegelisahan kalangan pekerja teater yang merasa jenuh dengan dramaturgi Barat sehingga mereka merasa kering. Sebagai orang yang sering dijadikan sasaran curhat, Sutak lantas menawarkan pelajaran Tari Kuda Lumping (Jaran Kepang) agar mereka bersentuhan dengan seni tradisional. Pelan-pelan mereka juga belajar gamelan, berkenalan dengan karya-karya sastra tradisional seperti macapat, kidungan dan parikan. Hingga akhirnya diwujudkan dalam sebuah pertunjukan yang diberi nama Maju Jaran. Perihal nama ini nampaknya Sutak mengalir saja, karena sebelumnya juga pernah menyebut komunitasnya dengan Sanggar Tunggak Semi, Kelas Sinau Obah, Kelas Jimoji , Kelas Sinau Njeplak dan sebagainya.

Kemudian pihak Dinas Kominfo Kota Malang mengajak Sutak dalam program Pertura (Pertunjukan Rakyat) dan kelompok Maju Jaran itu berganti nama menjadi Sandiworo. Namun kerjasama dengan Kominfo ini hanya berjalan sesaat, kemudian Sutak lebih memilih independen, membuka latihan kidungan gratis bagi siapa saja. “Saya datangkan pemain ludruk untuk melatih kidungan dan soal gamelan diajarkan oleh Pak Mantri,” ujarnya.

Dari aktivitas inilah muncul filosofi, kalau ada siang ada malam, ada kaku ada lemes, ada kendho ada kenceng. Meski demikian tidak jelas kapan Kendho Kenceng lahir, tidak ada selametan, tidak ada momen yang resmi. Yang jelas produksi pertama dengan menggunakan nama Kendho Kenceng adalah Rumah Gila yang dipentaskan pertama taki 29 November 2013, kemudian bergerak di beberapa tempat di kampus-kampus, termasuk Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) Surabaya tahun lalu. Sebelumnya, sudah sejak 1996 Sutak sudah berkeliling kampus dengan produksi-produksi ludruk kecil. Sebagian penggemarnya yang saat itu masih mahasiswa, sekarang menjadi pemain KK kali ini. Banyak anak-anak muda, terutama dari teater, yang kemudian tertarik bergabung di komunitas ini.
05-800x533
Meski dikenal sebagai kelompok ludruk, menurut Sutak sejak awal tidak ada niatan untuk membentuk ludruk. Terserah siapa yang menyebutnya. Hanya saja, ketika ada yang menyebut ludruk, maka unsur-unsur ludruk seperti remo, kidungan dan jula-juli diadopsi sedemikian rupa. Malah kalau ada yang menyebut bukan ludruk, terserah juga. Yang jelas, kata Sutak, apa yang dilakukannya selama ini memiliki nilai tawar tersendiri bagi perkembangan ludruk itu sendiri. Dan dia malah senang ketika ada yang meniru, ada yang mengambil sebagian materinya di panggung yang berbeda.

Selain ludruk, komunitas ini pernah menggelar acara macapatan di beberapa tempat. Tidak ada misi muluk-muluk untuk melestarikan seni tradisi namun hanya berposisi menjadi konektor. Hanya menghubungkan bahwa dulu pernah ada kekayaan budaya semacam ini, kemudian ditampilkan pada masa sekarang agar orang, khususnya anak muda, mengenalinya. Faktanya, ada tradisi tutur di ludruk yang tidak dikenali lagi, itu yang dihadirkan agar orang tahu. Bukan tradisi visual yang sebetulnya merupakan ranah teater dan film. Dalam tradisi tutur itulah diajarkan soal etika, bagaimana bersikap sopan santun, tidak asal bicara dan semacamnya. Karena ludruk adalah sastra (tradisi) lisan.

Ludruk Rasa Teater
Sepintas menyaksikan pergelaran dari Kendho Kenceng ini memang terasa seperti teater. Ini adalah teater rasa ludruk, atau juga ludruk rasa teater, tergantung dari sisi mana berangkatnya. Yang jelas pentas tidak dibuka dengan bedayan dan tari remo, jula-juli, kidungan dan disusul lawak sebelum masuk cerita utama, sebagaimana ludruk tradisional pada umumnya.
06-800x533
Sebelumnya, KK mementaskan lakon Rumah Gila yang disajikan keluar dari mainstream ludruk. Bahkan pada babak awal, langsung dibuka dengan adegan surealis tentang seorang lelaki tua dan anak muda yang terlibat dalam dialog-dialog filosofis. Hal yang serupa juga terjadi dalam lakon Pernikahan Jahanam yang langsung diawali dengan konflik batin antara Suntoro dengan Sulastri ketika masih muda dalam adegan-adegan simbolis teatrikal. Nampak sosok lelaki di balik layar, sosok perempuan di balik layar satunya, keduanya disorot lampu kuat dari arah samping sehingga menjadi silhoutte. Sayang sekali, posisi lampu di tepi panggung terlalu maju sehingga sinarnya sangat menganggu penonton.

Sementara di balik layar tengah, Suntoro mengucapkan sumpah setia pada Sulastri, sedangkan Sulastri masih berada di depan layar. Maka ketika keduanya berada di belakang layar, terjadilah hubungan diluar nikah antara Suntoro dan Sulastri, yang digarap artistik dan simbolik, tidak verbal. Ini adegan yang menarik. Sampai akhirnya diketahui bahwa ayah Sulastri mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri lantaran anaknya ketahuan hamil diluar nikah. Maka muncullah sebuah peti jenazah, tarian dukacita, dan sosok di belakang layar menginformasikan pernikahan Sulastri dengan seseorang.

Dalam junia jurnalistik, inilah yang disebut lead, kepala berita. Ludruk ini dengan sengaja memulai lakon langsung pada bagian yang menegangkan, yang dramatis, baru kemudian masuk tarian Remo dan adegan lawak. Penari remo yang satu ini juga ngidung, tetap dengan latar belakang layar-layar tadi yang sudah robek. Hanya sayangnya, Harun Gojez, pemain lelaki yang memerankan tukang sound gagal improvisasi ketika diketahui klip on tidak berfungsi. Padahal justru ada adegan inilah ruang improvisasi itu sangat terbuka lebar, lebih-lebih karena dia bermain monolog cukup lama. Alih-alih hendak melucu, malah terkesan tegang karena gangguan klip on. Salah tingkah. Mengapa gangguan teknis ini tidak dijadikan bahan lawakan sekalian?
07-800x533
Persoalan klip on inilah yang seringkali terjadi hampir di sepanjang pertunjukan sehingga bagi penonton yang jauh dari panggung pasti terganggu karena tidak dapat menyimak dialog dengan baik. Dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kendho Kenceng, apakah akan bermain serius dengan mengabaikan gangguan teknis ini, ataukah justru meresponnya. Dan nampaknya ludruk ini memang tidak dimaksudkan sebagai ludruk komedi yang bisa tampil cair dengan guyonan yang merespon kesalahan teknis.

Jika dirunut sejak awal, permainan memang dimulai dengan kenceng (tegang), disusul adegan yang maksudnya kendho namun tampil adegan lawak yang gagal. Kemudian kenceng lagi ketika muncul adegan Suntoro tiba-tiba hadir di rumah Sulastri ketika akan menikahkan Kinasih. Dari sinilah ritme permainan terus meningkat, konflik-konflik berseliweran, tegang dan merupakan intisari dari lakon ini. Betapa kehadiran Suntoro sama sekali tidak diduga Sulastri membuyarkan segalanya. Kado dari Suntoro ditolak. Muncullah tamu-tamu lainnya meski acara pernikahan baru dimulai keesokan harinya.

Suntoro masih duduk di sudut. Muncullah Purnomo, calon mempelai lelaki dan ayahnya, Iskijan (Sutak Wardhiono) dialog sejenak, hingga kemudian Suntoro membuka rahasia kepada Purnomo. Anehnya, meski Purnomo sama sekali tidak mengenalnya, dia sangat percaya pengakuan Suntoro dan terus menerus ngotot membatalkan rencana pernikahan meski ayahnya sudah berusaha membujuknya. Keanehan inilah yang menganggu logika cerita.

Suasana makin tegang ketika Suntoro terlibat pertengkaran hebat dengan Suratno, suami Sulastri, dimana Suntoro di atas angin karena memiliki beberapa kartu rahasia. Namun emosi Suratno memuncak, Suntoro lari ke luar rumah, diteriaki “maling” dan dikeroyok oleh warga setempat.
08-800x533
Suntoro kemudian diselamatkan oleh Pak RW. Sosok yang tampil kocak sehingga menghibur penonton. Inilah babak kendho lagi. Pilihan tokoh RW ini juga berbeda dengan kebiasaan umum, yang biasanya menampilkan sosok tetua adalah Pak RT atau juga Pak Lurah. Komentar-komentar lucu dari Pak RW inilah yang mampu menyegarkan suasana sehingga tidak membosankan menyaksikan adegan yang tegang terus menerus. Sementara Harun Gojez dan Darmaji menimpalinya. Dalam gegeran itu, Pak RW juga yang menjadi penengah, sekaligus saksi yang tak berdaya, ketika kemudian ternyata semua tokoh tumpek bleg di rumahnya.

Pada babak inilah adegan kendho dan kenceng silih berganti, sementara ritme permainan terus menanjak. Apalagi dengan munculnya sosok wartawan bule (Sofia Almgren dari Harnosand, Swedia) yang menyegarkan suasana, meski tanpa adegan inipun pertunjukan tidak berkurang apa-apa. Juga kemunculan Ayaka ‘Endang’ Mashimo, sebagai salah satu tamu yang ternyata teman Kinasih, jauh-jauh datang dari Saitama, Jepang.

Kado dari Suntoro ternyata berupa surat-surat berharga untuk Kinasih, berupa mobil, tanah dan rumah serta deposito. Kinasih menyalahkan ibunya yang sudah berbohong belasan tahun. Kinasih menolak Suntoro sebagai ayah kandungnya, mengusirnya, meski Suntoro hanya meminta satu kata saja, yakni Kinasih mau memanggilnya “ayah”. Ibunya juga sudah meminta maaf, sangat menyesal. Toh Kinasih tetap bergeming.

Pada puncak konflik itu Kinasih tak bisa menahan diri. Dia ambil tusuk kondenya hendak bunuh diri namun Suntoro keburu menyergapnya sehingga tusuk konde itu menancap di leher Suntoro. Adegan ini tidak terlihat jelas oleh penonton. Namun ketika saya tanyakan, Sutak menjelaskannya di belakang panggung. Barangkali, pengaturan sorot lampu yang dibuat memusat pada Kinasih akan membantu penonton memahami adegan ini.
09-800x533
Demikian pula adegan mengapa Purnomo sangat percaya pada Suntoro yang sama sekali tidak dikenalnya, ternyata Sutak mengaku ada dialog yang hilang. Seharusnya Iskijan (bapak Purnomo) mengatakan, ”orang terhormat dan kaya seperti Suntoro itu tidak mungkin berani bohong dengan mempertaruhkan kehormatannya.”

Lagi pula, sosok Purnomo adalah figur yang terlalu yakin dengan dirinya sendiri tanpa dia sadari bahwa keyakinannya itu berasal dari orang lain. Sama dengan rembulan (purnama) yang bersikukuh dengan sinar terangnya, padahal sinar terang itu bukan miliknya sendiri, melainkan pantulan sinar dari matahari.

Catatan Penutup
Pentas di Taman Krida Budaya Jatim di Malang ini merupakan hajat rutin Taman Budaya Jawa Timur. Setelah tahun lalu pentas di gedung Cak Durasim Surabaya, pergelaran kali ini menutup pergelaran periodik tahun 2016 yang kebanyakan memang berupa ludruk, disamping ada Janger, Ketoprak dan Wayang Orang. Apapun sebutannya, Kendho Kenceng memang menawarkan rasa baru terhadap ludruk yang biasanya.

Menurut Sutak Wardhiono, seniman serba bisa ini memang berhasrat menyajikan ludruk yang lain dari yang biasanya. Ludruk yang bukan itu-itu saja, ludruk yang sudah disentuh dengan pendekatan teater sebagai seni pertunjukan modern. Ludruk yang bukan ludruk.

Lantas, mengapa tidak sekalian saja menyebut kelompok ludruk, sehingga tidak nanggung? Sutak menjawab, justru dengan posisi nanggung itulah dapat membaca banyak hal, menjadi lebih hati-hati. Sutak tidak ingin menjadi kelompok ludruk yang tidak bertanggungjawab. Dan itu menurutnya sangat mengganggu.

Namun demikian Sutak tidak semata-mata lantas meninggalkan ciri khas ludruk berupa Remo dan Jula-juli. Justru di situlah inti pertunjukan ludruk sesuai pakemnya. Hanya saja, Remo dan Jula-juli yang bagaimana yang disajikan, itulah ranah kreativitas yang digarap serius oleh Sutak. Dalam pementasan kali ini justru soal kidungan itu yang layak diacungi jempol karena bukan hanya dibawakan oleh penari remo namun juga pemeran lain dalam sesi dialog. Padahal tidak gampang mencari pemain ludruk, termasuk penari, yang mampu membawakan kidungan.

Terkait publikasi, menyikapi perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat, KK merambah ranah media sosial untuk mempromosikan pertunjukannya. Rekaman pergelaran yang pernah dilakukannya diunggah melalui Youtube, sehingga masyarakat masih dapat menyaksikan meski belum pernah menonton langsung. Malah melalui Youtube juga diunggah trailer pertunjukan yang akan digelar kemudian. Nampaknya, bagi KK rekaman pertunjukan di media sosial ini tidak membuat masyarakat enggan nonton pertunjukan langsung namun justru disikapi sebagai pancingan agar orang justru ingin tahu pertunjukan aslinya.

Dibandingkan ludruk biasanya, memang Pernikahan Jahanam ini agak berbeda sehingga dapat menjadi bahan kajian. Bahwa pertunjukan ludruk tidak harus diawali dengan tari Bedaya dan Remo, namun bisa langsung adegan konflik. Itu persoalan dramaturgi, sama dengan pergelaran wayang kulit yang langsung dimulai dengan adegan perang. Selebihnya, nyaris tidak ada yang baru dari pergelaran ini.

Ludruk menggunakan naskah, ini juga perlu dipertimbangkan meski naskah tidak seharusnya menjadi belenggu sehingga pemain kehilangan ruang kreativitas. Dibutuhkan kecerdasan pemain untuk menyiasati tuntutan naskah ini. Bukankah teater modern dengan naskah tetap tersedia ruang improvisasi?

Dibandingkan Rumah Gila yang sudah pentas beberapa kali, pementasan Pernikahan Jahanam ini nampaknya masih butuh latihan yang intens lagi. Sejumlah pemain butuh memperbaiki artikulasi dialognya agar informasi penting tidak terlewatkan penonton. Ritme kendho-kenceng sepanjang proses pertunjukan harus dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi tontonan yang tidak membosankan, sekaligus cocok dengan nama komunitas itu sendiri.

Bahwasanya semua pemain adalah mahasiswa dan anak muda, ini juga patut diapresiasi agar ludruk tidak hanya digenggam kalangan orang tua dan menjadi milik masa lalu. Mungkin saja anak-anak muda itu telah menemukan tempat yang nyaman untuk dapat mengenali dan mengakrabi seni tradisional sekaligus menjadi pelaku untuk menyelamatkan dari ancaman kepunahan. Kendho Kenceng telah menawarkan alternatif yang tidak harus ditiru, tetapi itulah yang dipilihnya dengan menjadi kuwali (wadah) bagi anak-anak muda yang masih cair kepribadiannya. Tidak salah jika mereka menamakan diri Kualisi Kendho Kenceng. Wadah bagi dinamika anak muda yang membutuhkan pencerahan dan penyegaran. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: