Hening Purnamawati – Meninggal Dunia dalam Hening

OLEH HENRI NURCAHYO

Hening Purnamawati, dikenal sebagai perempuan pelukis surrealis yang memiliki gaya tersendiri. Berbagai penghargaan diraihnya, sejumlah pameran bergengsi diikutinya termasuk pameran di banyak negara. Tetapi sudah cukup lama berita tentang Hening memang betul-betul hening alias sepi. Tahu-tahu hari Rabu (28/6/1) menjelang tengah hari beredar info mengejutkan di media sosial bahwa Hening Purnamawati meninggal dunia dalam usia 57 tahun.

Lebih mengejutkan lagi, ketika kalangan seniman melayatnya di rumah duka Adiyasa Surabaya, baru diketahui ternyata Hening sudah meninggal dunia 2 (dua) hari sebelumnya, persis ketika umat Muslim merayakan Idul Fitri hari kedua. Kepastian itu tertulis jelas di papan informasi yang terpajang di ruang jenazah, bahwa Hening meninggal dunia hari Senin, 26 Juni 2017, pukul 22.57 WIB di RSUD Sidoarjo. Dan memang baru Rabu siang itu terbuka kesempatan untuk umum menyaksikan jenazah Hening sebelum tutup peti.

Mengapa berita penting ini sampai tertunda dua hari penyebarannya? Bermula hari Minggu malam (25/6), Hening langsung dibawa suaminya (Tono, Rilantono) ke RSUD Sidoarjo dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Setelah dilakukan pemeriksaan seperlunya, sungguh mengejutkan, bahwa kadar gula dalam darahnya mencapai angka fantastis, 950. Langsung disuntik insulin, sempat turun hingga angka 450. Setelah itu kondisinya terus menurun hingga akhirnya ajal menjemputnya. “Saya tidak tahu kondisi Hening ternyata sudah separah itu, kisah Tono kemudian.

Tanpa bermaksud menyalahkan, memang Tono tidak akrab dengan gawai (gadget). Tengah malam itu, ketika Hening tiada, Tono betul-betul panik. Tidak ada anggota keluarga lain yang menemani, sebab pasangan pelukis itu belum dikarunai keturunan, dan hanya tinggal berdua di rumah mewah kawasan Gedangan Sidoarjo. Sampai dengan hari Selasa, hanya keluarga dekat saja yang mengetahui kabar duka ini.

Baru hari Rabu pagi, Tono mencoba kirim berita duka melalui WA melalui HP milik Hening ke beberapa nomor yang diketahuinya. Saat itu Tono sendirian di Adiyasa menunggu Hening dimandikan. Melalui telepon, Tono sempat cerita bila isterinya meninggal tadi malam (Selasa). Tidak salah jika beredar berita Hening meninggal Selasa malam. Mungkin Tono syok, bingung soal waktu, apalagi dia sendirian.

Sejumlah teman dekatnya menyaksikan, bahwa dalam waktu belakangan ini memang kondisi Hening memang nampak tidak sehat. Kalau toh ditanya, dia hanya bilang “ada masalah pencernaan”. Dan ternyata diketahui kemudian dia tidak bisa buang air besar. Dalam WA Hening ke Abidin Ezra, Kamis (22/6) pukul 12.49 tertulis: “besok aku mau opname 3-harian, ada masalah di pencernaan, seminggu ini aku gak bisa jalan jauh.” Itu obrolan terakhir Hening dengan Abidin, juga dengan Wawan yang dikenal sering membantu Hening dalam banyak urusan. Sejak itu Hening tidak bisa dihubungi sampai kemudian beredar berita duka itu.

Hari Kamis (29/6) jenazah Hening dimakamkan di pemakaman Sukorejo, yang berada di jalur jalan menuju Malang, meski berada di wayah administratif Pasuruan. Rilantono memang lahir dan berasal dari Sukorejo, sebelum kuliah di ISI, bertemu Hening, pindah ke Surabaya dan menikah.

Perupa Penuh Prestasi
Lahir di Cimahi Jawa Barat, 3 September 1960, Hening Purnamawati menempuh pendidikan tinggi di STSRI “ASRI” Yogyakarta jurusan seni lukis pada tahun 1981 sebagai satu-satunya perempuan dalam angkatannya sejumlah 40 mahasiswa. Lulus dari ASRI tahun 1987, dia langsung hijrah ke Surabaya, indekos di Jalan Prambanan 5. Setahun kemudian dia menikah dengan Rilantono, teman kuliahnya, dan sempat tinggal di rumah kerabat Tono di kawasan Darmo Satelit sekitar setahun lamanya. Dalam perjalanannya kemudian pasangan muda itu tinggal di Wonosari Kidul 168 belakang, kemudian pindah ke Jalan Lesti 22 dan akhirnya berhasil membangun rumah di Puri Surya Jaya Jl. Taman Paris AI/16 Gedangan-Sidoarjo.

Ketika awal tinggal di Surabaya, Hening menyibukkan diri menjadi pengajar di Lembaga Pengembangan Seni Rupa (LPSR) Aksera yang ada di kawasan Dukuh Kupang. Waktu itu memang Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) yang pernah hidup tahun 1967-1970 itu hendak dibangkitkan lagi sebagai lembaga Pendidikan oleh para alumni dan dosennya setelah mendapatkan bantuan gedung dari pemerintah kota Surabaya. Seiring dengan menurunnya aktivitas LPSR Aksera sendiri, Hening kemudian mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya selama dua tahun.

Potensi Hening dalam seni rupa sudah terlihat sejak muda. Tahun 1979, ketika masih kelas 2 (dua) SMA Negeri V Bandung sudah ikut pameran lukisan. Tetapi ketika lulus SMA malah masuk Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran meski hanya satu tahun, lantaran memang tidak punya cita-cita ingin jadi pelukis. Gara-gara teman ayahnya suka menyebut-nyebut ASRI di Yogyakarta, maka Hening tertarik, iseng-iseng mencoba test masuk dan diterima hingga keterusan, kerasan dan enggan balik ke Bandung lagi.

Kuliahnya di ASRI ditandai dengan awalan prestasi berupa penghargaan dalam karya sketsa (1981) dan diakhiri penghargaan Karya Terbaik Seni Lukis 1987 dalam acara Dies Natalis ISI ketiga. Dan selama kuliah, beberapa pameran diikutinya di lingkungan kampus sendiri, di beberapa tempat di Yogyakarta termasuk tentu saja pameran tugas akhir gelar sarjana tahun 1987. Pameran tunggal pertama dan satu-satunya pascalulus ISI berlangsung tahun 1988 di Pusat Persahabatan Indonesia Amerika (PPIA) Jalan Dr. Soetomo, hanya setahun setelah menjadi warga kota Surabaya.

Setelah itu namanya kemudian beredar luas sebagai perupa potensial yang terlibat dalam banyak pameran penting antara lain, Pameran Imaji Surrealis di Edwins Gallery, Pameran Pelukis Muda Pilihan Indonesia (Jakarta, 1991), Pameran Besar Pelukis Indonesia (Surabaya, 1991). Setahun berikutnya Pameran bersama Antonio Blanco di Konsulat Jendral USA Surabaya dan Hyatt Regency Surabaya. Pameran Asian Watercolour (Jakarta 1992, Bali, Taiwan 1993, Kualalumpur 1994, Bangkok 1995), Asean Watercolour Taiwan – ROC (Taiwan, 1992), Pameran Internasional Lukisan Cat Air (Jakarta, 1993), dan Pameran Pelukis Indonesia selama setahun penuh keliling negara: Indonesia, Brunai Darussalam, Singapura, Malaysia, Philipina, Thailand dan Vietnam (1994). Dalam tahun yang sama (1994) mengikuti Pameran The Jakarta International Fine Arts dan pameran Phillip Morris Indonesian Arts Award I di Jakarta (terpilih lagi tahun 1995 keliling Indonesia, tahun 1996 dan 1998 di Jakarta).

Hening juga pernah pameran lukisan Asean Arts Award (1996, Bangkok, Malaysia, Singapura), Artrage Festival di Perth Australia Barat (1996), Pertukaran Seni Internasional Indonesia-Jepang di Kochi, Hiroshima dan Kobe Jepang (2001), dan selama tahun 2003 menjadi peserta pameran Borobudur International Festival (Magelang), Pameran Internasional CP Open Biennale (Jakarta), Pameran Lukisan Pelukis Indonesia di China (Beijing dan Shanghai), dan tahun 2004 pameran di tiga kota di Jerman, serta sekian banyak pameran lagi.

Sementara itu penghargaan demi penghargaan kembali diperolehnya. Tahun 1989 karyanya terpilih dalam 10 karya terbaik seni lukis Forum Perupa Muda Surabaya. Demikian pula dalam kompetisi seni lukis Indonesian Art Awards versi YSRI – Phillip Morris tahun 1994, karya Hening tercatat dalam 10 besar. Dua tahun kemudian (1996) memperoleh penghargaan karya terbaik dari institusi yang sama.

Penghargaan lain juga diraih sebagai Tokoh Populer Berprestasi Jawa Timur dalam bidang seni lukis dari Surabaya Enterprise Harian Surabaya Post (1996). Menyusul sebagai pelukis Surealisme terbaik versi Yayasan Seni Rupa Indonesia dan tahun 1998 dan dinobatkan sebagai Perupa Wanita Berdedikasi se Jawa Timur dalam meningkatkan kreativitas seni lukis Indonesia dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (1998). Penghargaan budaya juga pernah diberikan oleh Gubernur Jawa Timur semasa Imam Utomo tahun 2011.

Surrealisme ala Hening
Kemunculan Hening di jagad seni rupa Indonesia memang tidak bisa terlepas dari wabah surrealisme yang sedang populer di Yogyakarta, meskipun dia tidak semata-mata ikut arus itu. Perupa Rudi Isbandi, ketika menjabat sebagai Supervisi Budaya PPIA Surabaya menyebut karya Hening dalam pameran pertamanya itu (1988) sebagai dekoratif ornamental sebagaimana sebagian besar seni lukis tradisional nusantara. Tetapi, kata Rudi, Hening tidak terkurung dalam dunia masa lampau. Hampir tidak ditemukan cerita yang bersentuhan dengan legenda atau mitos dalam karyanya. Hening mencoba menerobos cerita-cerita baru yang diciptakannya sendiri lewat fantasi dan imajinasinya, mirip science fiction masa kini.

Ketika pertama kali hadir dalam percaturan seni rupa memang karya-karya Hening banyak mengetengahkan bentuk-bentuk sulur, garis-garis lengkung, bulatan-bulatan tak penuh yang saling bertumpuk atau benda-benda bundar yang beterbangan seperti planet-planet, serta berbagai elemen dekoratif sehingga menghadirkan suasana alam antah berantah. Imajinasinya sungguh luar biasa. Jadi kalau Rudi Isbandi menyebut elemen dekoratif ornamental maka karya Hening adalah dekoratif yang meruang, bukan yang datar. Kritikus seni rupa Sanento Yuliman menyebut lukisan Hening sebagai surrealisme yang fantastik dan dekoratif.

Perlahan namun pasti, dalam perkembangannya karya Hening tidak lagi hanya berisi bentuk-bentuk yang sama sekali tak dikenali dalam dunia nyata melainkan mulai ada bentuk-bentuk yang mengingatkan sesuatu. Garis-garis lengkungnya lantas membentuk seperti tulang rusuk yang berserakan di sebuah permukaan planet imajinatif. Ada juga bentuk-bentuk kepala burung dengan tubuh tinggal kerangkanya saja. Juga sejumlah kupu-kupu beterbangan dan binatang imajinatif mirip katak terbang. Atau juga figur-figur aneh yang purba dan fantastik yang seakan-akan hadir dari dunia mimpi.
Dalam karya-karyanya yang lain bentuk-bentuk itu sudah menjadi jelas menggambarkan sosoknya, tidak lagi bentuk imajinatif melainkan berbagai jenis binatang yang dilukis realis dengan cermat. Hanya saja secara keseluruhan binatang itu tetap saja seolah berada dalam dunia imajinatif dengan benda-benda asing dan ornamen-ornamen yang menghiasinya. Begitu pula dalam karyanya yang lain lagi sosok-sosok itu berupa manusia yang juga berada di alam imajinatif dengan latar belakang gunung, gedung-gedung dengan burung dan pohon-pohon khayalan serta tak lupa juga bentuk-bentuk dekoratif masih menyertainya.

Menikmati lukisan Hening seakan berhadapan dengan dunia mimpi dengan bentuk-bentuk yang serasa akrab dalam keseharian namun ternyata sulit untuk diceritakan kembali. Buaian keindahan yang ditawarkannya malah membawa imajinasi ke sebuah dunia yang absurd, aneh dan serba mencekam. Sepertinya Hening hendak menceritakan hasil pengembaraannya dari sebuah dunia fantasi yang liar. Dia memang suka misteri alam sebagai objek yang paling mengesankan untuk dijadikan sumber kreativitas penciptaan.

“Karena alam memiliki ruang dan waktu yang bernilai dalam kehidupan, nilai artistik dan nilai estetik. Nilai-nilai tersebut berlainan ada ruang waktu yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu apa yang saya tuangkan ke dalam kanvas adalah hasil imajinasi dan fantasi saya dalam menembus ruang dan waktu tersebut,” tuturnya panjang lebar dalam sebuah katalog pameran lukisan di Surabaya tahun 1992.

Dalam kesempatan lainnya dia menyebutkan proses kreatifnya, bahwa “rasa tertarikku akan misteri alam yang di dalamnya terkandung keindahan, kelembutan, keheningan, tetapi juga kedahsyatan, kekerasan, ketakutan dan kengerian yang sangat mencekam menjadi obsesi yang menggetarkan jiwa dan batinku untuk berfantasi dan menuangkannya dalam bahasa artistik.” (Katalog pameran Pelukis Jawa Timur, 1995).

Hening seolah ingin menguak misteri alam raya yang menurutnya penuh dengan gejala-gejala yang sangat menakjubkan. Meski objek lukisannya menyiratkan kedahsyatan dan kengerian yang mencekam namun dihadirkan dalam goresan warna yang kaya, mengisyaratkan kelembutan dan keindahan alam. Dengan kata lain, meski berada dalam ranah surrealisme, Hening seolah ingin menepis bahwa dunia surealis mesti muram dan mencekam. Hal itulah yang tergambarkan dalam karya-karya Bersenandung di Langit (1991), Senandung Alam Imajiner (1992) atau Pohon Ilusi (1991) untuk menyebut beberapa contoh. Kalangan pengamat menyebutkan surealisme Hening sebagai Surrealisme Biomorfis, Bio-surrealis atau dekoratif-surrealis.

Dalam peta seni rupa Indonesia, karya-karya Hening ini memang mengingatkan gaya lukisan Boyke Krishna Aditya, I Gusti Nengah Nurata atau juga Lucia Hartini. Tetapi diantara kesemuanya itu karya Hening masih mampu menunjukkan cirinya yang khas dirinya sendiri.

Yang mengagumkan dari karya Hening adalah, gambaran dunia absurd yang sangat imajinatif fantastis itu digarap dengan intensitas artistik yang kuat. Itu sebabnya Hening membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikan satu karyanya saja hingga berbulan-bulan lamanya, lantaran ukurannya juga lumayan besar, hingga ada yang 200×300 cm. Dalam perkembangannya bentuk-bentuk sulur dan ornamen dekoratif mulai berkurang dan nyaris menghilang. Diam-diam Hening juga tidak selalu melukis dengan kanvas berukuran besar dengan banyak objek yang kecil-kecil. Salah satu contohnya adalah sebuah lukisan berjudul “Simphoni Pengharapan” tahun 2005 (60×80 cm) berisi figur perempuan bertopeng dalam ukuran cukup besar dan sedang memainkan biola, sementara di sebelahnya nampak tangan-tangan tersembul dari belitan keruwetan kain-kain serta nampak juga dua buah tangan memperlihatkan timbangan keadilan.

Dalam sebuah pameran di Manado (tahun 2000) Hening menghadirkan karya yang berbeda dengan yang sudah menjadi trade mark¬-nya. Karyanya yang berjudul “Gelora Wanita Selebritis” hanya berukuran 40×40 cm, sangat jauh berbeda dengan sebelumnya. Selain ukurannya, figur-figurnya tidak lagi realis melainkan sudah distilisasi seperti misalnya posisi mulut yang bergeser dan tangan yang melengkung.

Lukisan-lukisan berukuran kecil ini nampaknya berbeda dengan karya Hening yang biasanya. Sebuah karya berjudul The Struggle menyiratkan adanya kekerasan melawan kesewenang-wenangan. Lukisan yang berbeda juga hadir dengan judul “Kasih Ibu” dan sejumlah karya lainnya. Karya-karya katagori inilah yang nampaknya luput dari pengamatan para pengamat sehingga citra tentang Hening masih terpaku pada karya-karyanya yang disebut-sebut sebagai “Surrealis Biomorfik” atau apalah namanya itu. Karya Hening masih diidentikkan dengan karya yang dekoratif – ornamentik, yang imajinatif, yang penuh dengan fantasi purba dari dunia mimpi. Padahal belakangan dan/atau dalam waktu yang bersamaan Hening juga berkarya dengan citra yang jauh berbeda. Ini menarik. Bahkan, karyanya yang ikut di Biennale Jatim 2015, sudah jauh berbeda dengan yang biasanya. Karena itu Hening sendiri menolak disebut pelukis surealis yang total karena karya yang dihasilkannya sangat beragam.

Meski demikian, meski secara visual menunjukkan bentuk-bentuk yang beragam, dalam hal tema menunjukkan konsistensi sikapnya terhadap persoalan kehidupan. Kalau pada awal-awalnya dia hanya sekadar mendeskripsikan persoalan kehidupan dalam bentuk sejumlah ekspresi dan renungan, dalam perjalanannya kemudian dia menentukan sikap tegas. Misalnya saja, dia mempertanyakan perihal problematika sosok ibu dalam karyanya Pesta Demokrasi, Opera Rakyat (2004), What Happened Mom? (2007), Gelora Wanita Selebritis, The Struggle, Transformer dan sebagainya. Ketegasan sikapnya itu nampaknya lebih kental pada karya-karyanya yang berukuran kecil-kecil itu.

Penyayang Binatang

Hanya tinggal berdua dengan suaminya yang juga pelukis, puteri kelima dari enam bersaudara ini ternyata seorang penyayang binatang yang fanatik. Sampai dengan kepergiannya, di rumahnya tercatat ada 2 (dua) ekor burung (derkuku dan puter), dua ekor anjing, 11 (sebelas) kura-kura dan 23 (baca: dua puluh tiga) kucing serta puluhan ikan dalam dua akuarium dan kolam. Namun kucing yang dipeliharanya bukanlah kucing ras yang mahal melainkan kucing kampung yang kebetulan ditemukannya terlantar depan rumahnya dalam kondisi kotor dan sakit-sakitan.

Kisah kucing-kucing yang bisa rukun dengan anjing ini menarik diceritakan. Dikisahkan oleh Tono, pada mulanya memang hanya ada dua anjing. Tetapi tahu-tahu nyelonong masuk seekor kucing kampung, entah dari mana. Tentu saja anjing itu menyalak keras-keras mengusirnya. Ternyata kucing itu merespon dengan sikap yang aneh. Dia tidak lari, malah menelentangkan tubuhnya seolah menunjukkan sikap menyerah. Ketika salak anjing berhenti, kucing itu berdiri dan berjalan biasa. Namun anjing itu kembali menyalak, lagi-lagi si kucing telentang tanda menyerah. Begitulah terjadi berulang kali hingga akhirnya si anjing bosan mengusirnya.

Dan entah bagaimana ceritanya, kisah rukunnya kucing dan anjing itu “diketahui” oleh kucing-kucing kampung di sekitar rumahnya sehingga satu demi satu berdatangan bergabung di rumah Hening. Dasar Hening penyuka binatang, maka kehadiran kucing-kucing itu dipelihara dengan baik sehingga makin kerasanlah mereka. Tidak hanya berhenti di situ, setiap kali Hening berada di jalan sambil mengendarai mobil, begitu tahu ada kucing terlantar dan sakit-sakitan di jalanan langsung diambilnya, dirawatnya dengan baik, bahkan sampai dibawa ke dokter hewan untuk rawat inap.

Rilantono yang kebetulan tidak menyukai kucing mulai terganggu karena jumlah kucing di rumahnya semakin banyak. Apalagi perlakuan Hening dinilai sudah berlebihan, sampai-sampai membiarkan tiga ekor kucing tidur bersamanya. Tetapi Hening mengaku malah bertambah baik kondisinya lantaran tidur bersama kucing.

Suatu malam terdengar rintihan anak-anak kucing di dekat rumahnya. Hening yang tidur di lantai atas bergegas turun dan mengambilnya. Duh, ternyata jumlahnya 7 (tujuh) ekor anak kucing. Tono mulai menunjukkan marahnya, karena sudah terlalu banyak kucing di rumahnya. “Kasihan masih kecil ditinggal induknya, saya janji kalau sudah besar saya lepaskan,” kata Hening sebagaimana ditirukan Tono. Dan ternyata, sampai kucing itu beranjak dewasa, tetap saja dipeliharanya. Hal itu baru diketahui Tono kemudian karena kucing-kucing itu selalu disembunyikan Hening agar dikira sudah dibuang.

Perihal Hening yang suka kucing inipun menyebar ke tetangga-tetangga di perumahan itu. Maka ada saja yang sengaja “membuang” kucing di depan pagar rumahnya agar dipelihara. Sampai-sampai di depan rumah dipasang tulisan: “Dilarang membuang kucing di sini.” Selesai? Ternyata tidak. Karena tulisan itu hanya bisa dibaca oleh manusia, tidak oleh kucing. Maka ada saja kucing yang sengaja memboyong anak-anaknya satu persatu entah dari mana untuk “didaftarkan” menjadi warga keluarga kucing di rumah Hening.

Lagi-lagi Tono melarang isterinya mengadopsi kucing lagi ketika diketahuinya ada seekor kucing dengan lima anaknya berkeliaran di dekat rumahnya. Sampai suatu malam, tiba-tiba Hening melihat ada sesuatu yang aneh di depan pintu pagar rumahnya. Setelah didekati ternyata ada anak kucing yang terlindas mobil dengan kondisi tubuh yang sudah benar-benar rata dengan tanah. Hening terkejut, mau nangis, langsung mencari pertolongan agar bangkai anak kucing yang sudah seperti selembar kertas itu diambilnya, dibungkus dengan kain putih dan dikubur baik-baik di halaman rumah. Lengkap dengan taburan bunga di atasnya. Sejak saat itu, keempat anak kucing yang tersisa mau tak mau harus dipelihara juga oleh Hening. Dan Tono tidak kuasa lagi melarangnya karena Hening beralasan, “daripada mati ketabrak.”
Jangankan kucing yang dimakamkan seperti itu, ketika pembantunya hendak membuang bangkai tikus langsung dimarahi oleh Hening. “Kamu mau kalau mati dibuang seperti itu,” sergahnya. Maka bangkai tikus itupun mendapatkan perlakuan istimewa dalam penguburannya sebagaimana halnya kucing. Bahkan, ketika seekor ikan koi di kolamnya kedapatan mati, lagi-lagi cara yang sama juga diberlakukan untuk ikan sebesar lengan orang dewasa itu. Padahal, sudah terbayangkan alangkah enaknya kalau dimasak atau digoreng.

Hening memang dikenal sebagai perempuan yang ramah dan baik hati oleh penjual tanaman, pengemudi becak, tukang-tukang dan para pekerja yang sering membantunya. Ketika mereka mengetahui ada dua ekor kura-kura di rumah Hening, tahu-tahu si pengemudi (tukang) becak langganannya menawarkan seekor kura-kura agar dibelinya. Alasannya, dia menemukan di sungai. Begitulah, satu demi satu kura-kura menjadi koleksi Hening hingga berjumlah sebelas ekor.

Masih banyak lagi kisah-kisah Hening dengan para binatang dan juga tanaman yang menarik dituturkan. Barangkali, lantaran kelembutan hati yang seperti inilah yang kemudian terpancarkan ke dalam kanvas-kanvas karyanya.
Dan sekarang, Hening Punamawati, puteri dari lelaki keturunan bangsawan Surakarta yang berkarier menjadi tantara itu sudah pergi untuk selama-lamanya. Lantaran ibu Hening dari Cimahi asli dan Hening sejak kecil tinggal di tanah Sunda, tentu saja dia tidak menguasai bahasa Jawa, meski dirinya berhak menyandang gelar Raden Rara (RR) di depan namanya.
Perupa Novita Sechan sebagai salah satu teman dekat Hening, mengaku sudah janjian dengan Hening untuk jalan-jalan menikmati suasana pegunungan setelah Lebaran. Hening juga minta diajak ke Candi Jolotundo lagi, dia senang berendam di kolam petilasan Airlangga itu. Namun toh Tuhan berkehendak lain, Hening sudah pergi menemuiNYA. Semoga damai di sana yaa…. (*)

Henri Nurcahyo, penulis buku dan pekerja seni budaya, tinggal di Sidoarjo Jawa Timur.

Catatan:
Naskah ini dimuat di buku katalog pameran senirupa “Mengenang Sang Hening”, 7-17 Oktober 2017. Versi ringkas dari artikel ini sudah dimuat di majalah GALERI Nomor 23 (Agustus) Tahun 2017 terbitan Galeri Nasional, Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: