Kidung Bhagavat Gita yang Renyah

catatan ringan henri nurcahyo

Sebuah pertunjukan yang menamakan diri Drama Wayang (Drayang) digelar di Gedung Kesenian Cak Durasim (10/11) membawakan lakon “Kidung Bhagavat Gita”. Dialog panjang yang sakral antara Sri Kreshna dan Arjuna itu terasa “renyah” karena dibawakan dengan cara-cara yang populer, enak ditonton, artistik, dan (ini yang menarik) hampir semua dialognya berbahasa Indonesia dan sesekali malah menggunakan Jawa Suroboyoan.

Lantaran memang merupakan sebuah pertunjukan khusus, penonton harus punya undangan dengan kursi yang sudah ditentukan, kecuali mau duduk di lantai. Yang tak bisa masuk disediakan layar monitor lebat di pendopo, lengkap dengan puluhan kursi. Pertunjukan ini juga menjadi istimewa karena dihadiri Gubernur Jatim, Soekarwo dan istri, juga Sekdaprov, Deputi Bekraf, dan pejabat Dirjen Kebudayaan.

Dinamakan “Drayang” memang secara visual merupakan perpaduan antara drama (teater) dan pertunjukan wayang kulit dan wayang orang. Pertunjukan model seperti ini dengan lakon yang sama sudah pernah dipentaskan setahun yang lalu di Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta. Bayangkan sebuah kelir wayang selebar latar belakang panggung, dan di balik kelir itulah para dalang (9 anak muda dari Sanggar Baladewa) memainkan wayang sehingga yang dilihat penonton adalah bayang-bayangnya saja. Persis seperti asal mula pergelaran wayang itu sendiri.

Sementara di depan layar para pemain menari, berdialog layaknya sebuah drama (wayang orang) dan ada pula yang membawa wayang kulit untuk dimain-mainkan di tangannya. Sebuah gaya pertunjukan kolaborasi yang enak ditonton, ringan, sebagaimana personal pertunjukan ini juga hasil kolaborasi. Dari hampir seratus pendukung pertunjukan ini, hanya belasan orang yang berasal dari Sanggar Swargaloka Jakarta, mereka memang pemain profesional yang memegang peran-peran kunci. Sementara sebagian besar lainnya berasal dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Sanggar Baladewa Surabaya, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan sejumlah seniman lokal lainnya.

Soal penggunaan bahasa itulah yang menjadikan pertunjukan ini komunikatif sehingga tidak ada alasan lagi anak-anak “zaman now” yang menyebut tidak mau nonton wayang dengan alasan tidak mengerti bahasanya. (Padahal, mereka suka kesenian Korea apa juga paham isinya?) Penggemar seni tradisi dari kalangan “zaman old” tentu merasa aneh karena kekhusukan bahasa Jawa menjadi hilang. Meskipun, untuk tembang-tembang suluk memang masih dipertahankan dalam bahasa aslinya.

Kidung Bhagavat Gita adalah kisah tentang Arjuna (diperankan oleh Bathara Saverigadi Dewandoro) yang tiba-tiba saja hendak mundur dari ajang Bharata Yudha karena dia sadar bahwa yang diperangi adalah saudaranya sendiri. Bagaimana tidak gamang ketika dia tahu bahwa musuh utamanya adalah Karna (Achmad Diponyono), yang sama-sama berasal dari Dewi Kunti (Dewi Suryandoro), ibunya.

Dalam pertunjukan ini sosok Karna dimunculkan dalam durasi yang cukup panjang, sejak berupa bayi dibuang di sungai, dipungut oleh sais kereta, kemudian diperlihatkan Karna kecil (Damar Sotya Sasikirana) bermain bersama teman-temannya hingga menjadi Karna remaja menjelang dewasa yang dididik di lingkungan Kurawa.

Sementara di pihak Karna, apalah artinya seorang perempuan yang tiba-tiba muncul mengaku sebagai ibu kandungnya, sementara Karna justru dibesarkan oleh pihak yang dicitrakan sebagai pihak yang selalu jelek dan jahat. Haruskah seorang anak manusia memusuhi seekor serigala sekalipun yang pada kenyataannya memelihara dia sejak bayi?

Lalu muncullah Sri Kreshna (Haris Syaus) yang memberikan nasehat panjang lebar dan penuh dengan filsafat kehidupan bahwa perang ini adalah perang menuju kedamaian, sebuah perang suci melawan kebatilan. Apalagi Drupadi (Yani Wulandari), isteri para Pandawa telah diperlakukan semena-mena oleh Kurawa, ditelanjangi dan dilecehkan, akibat Pandawa kalah berjudi. Mengapa mahaguru Bisma dan Durna berdiam diri saja?

Karena masih dihinggapi sikap ragu itulah yang menjadikan Arjuna hampir saja dikalahkan Karna. Maka mereka lantas perang dengan menggunakan senjata panah, hingga Karna pun tewas di pelukan Dewi Kunti, ibunya sendiri.

TIM PRODUKSI:
– Sutradara : Irwan Riyadi, SSn
– Penata Tari : Bathara Savergadi Dewandoro
– Penata Musik : Dedek Wahyudi
– Penata Kostum : Yani Wulandari
– Penata Artistik : Suryandoro
– Penata Lampu : Sugeng Grandong
– Penata Sabet Wayang : Haryo Widyoseno, SSn (Sanggar Baladewa)
– Desain Produksi : Dewi Sulastri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: