Ludruk Karya Budaya: Seperti Raden Panji Mencari Sekartaji


Sudah menjadi cerita klise bahwa ada pembantu rumahtangga yang dihamili oleh juragan atau anak juragan. Biasanya, solusi dari kasus ini seringkali merugikan pihak pembantu dan mengesankan juragan yang arogan. Namun kali ini Ludruk Karya Budaya (LKB) Mojokerto mampu menyajikan dengan gaya yang berbeda sehingga menjadi tontonan yang menarik.

Dalam pentas periodik program Taman Budaya Jawa Timur, grup ludruk pimpinan Edi Karya itu mendapat giliran mementaskan lakon “Yatimin – Yatimun” di Taman Krida Budaya (TKB) Malang (29/7). Dalam cerita ini dikisahkan pembantu rumahtangga bernama Yahmina (Arry Arrimbi) yang dihamili oleh anak majikannya Yasman (diperankan Cak Mujiadi Zakariah yang juga sutradara). Ketika Yahmina mengadukan hal ini kepada Memet dan Slamet, temannya, Yahmina disarankan pulang ke desa. Ternyata, Yasman, pewaris tunggal Pak Yatimun yang kaya raya itu, mengakui perbuatannya dan siap bertanggungjawab. Tapi Yahmina sudah kadung pergi, Yasman pun menyusulnya.

Dari sinilah alur lakon jadi menarik karena selalu ada peristiwa dimana Yasman bertemu seseorang atau tiba di suatu tempat, tetapi Yahmina baru saja meninggalkan tempat itu. Hal ini terjadi berulangkali sehingga penonton tanpa sadar digiring untuk terus menerus penasaran, sambil membatin “coba kalau Yasman tidak terlambat datang.” Namun justru di sinilah menariknya. Rasa-rasanya hal ini mengingatkan lakon Raden Panji mencari Dewi Sekartaji.

Dalam perjalanan “kejar-kejaran” itulah terjadi beberapa peristiwa selingan tesendiri, seperti kisah pemancing yang sial, perampokan di tengah jalan dengan adegan laga yang disukai penonton, serta kisah pedagang kecil pemilik Warung NKRI dan sebagainya. Bahkan dimunculkan selingan penyanyi tunggal yang mampu sedikit meredakan rasa penasaran penonton. Di sinilah kepiawaian ludruk ini memain-mainkan emosi penonton.

Singkat cerita, Yasman akhirnya bertemu Yahmina di rumah oranguanya. Ayah Yasman, Yatimun, ikut menyusul dan bertemu juga di tempat yang sama, namun tetap ngotot tidak merestui anaknya menikahi Yahmina karena dianggap tidak sederajat. Di sinilah Yatimun (diperankan Pakde Pur) bertemu dengan ayah Yahmina yang bernama asli Yatimin (diperankan oleh Pak Naswan), ternyata kawan karib Yatimun sendiri. Happy ending.

Konon lakon ini berangkat dari gagasan Cak Kirun yang ditulis ulang dan digubah oleh Cak Edy Karya. Menurut Edy, lakon ini bukan lakon baru di ludruk teropan yang dikenal dengan judul “Juragan Dhemit” meski tidak ada dhemit dalam lakon ini. Yang ada, seorang juragan yang bersifat seperti dhemit.

Kalau toh ada kritik terhadap pertunjukan ini adalah pada adegan paling akhir yang terkesan hanya untuk menutup lakon dengan mudah. Ini gaya klise ludruk dimana semua pemain ketemu dan membuka sebuah rahasia. Sebagai kelompok ludruk senior yang sdah berpengalaman, tentunya bisa merancag adegan penutup yang lebih elok lagi sehingga terkesan kreatif. Itu saja. (henri nurcahyo, put)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: