Musuh Aktivis Bukan Pemerintah

Catatan Pentas Teater Sanggar Lidi Surabaya

Sanggar Lidi Surabaya mementaskan teater di Gedung Cak Durasim dua minggu yang lalu (11/4) dengan judul “Aktivzm”. Pertunjukan ini berkisah mengenai hitam putih dunia aktivis, yaitu orang-orang yang pernah menjadi pelaku langsung terjadinya perubahan besar dalam perjalanan sebuah negeri. Mereka adalah para demonstran dan/atau aktivis pergerakan mahasiswa yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan negara ketimbang hanya sibuk baca buku dan kuliah. Baca lebih lanjut

Iklan

Ketika Gunungsari Diganti Siliwangi

Oleh HENRI NURCAHYO

Masih ada yang percaya, perempuan Sunda tidak boleh (tidak berani, tidak mau) menikah dengan lelaki Jawa. Tabu (pamali) ini bersumber dari peristiwa Pasunda Bubat dimana rencana pernikahan puteri Sunda Dyah Pitaloka dari Pajajaran dengan Raja Majapahit Hayam Wuruk gagal akibat kesalahpahaman sehingga rombongan dari Sunda itu terbunuh semua di daerah Bubat dan sang calon pengantin puteri pun bunuh diri. Baca lebih lanjut

Balai Pemuda: Seniman dan Anjing Dilarang Masuk


Catatan Henri Nurcahyo

Ketika masih bernama De Simpangsche Societeit, Balai Pemuda menjadi tempat rekreasi orang-orang Belanda untuk pesta ria, dansa dan hura-hura. Hanya golongan mereka saja yang boleh masuk, sebagaimana jelas terpampang di sebuah plang: Verboden voor honden en Inlander (dilarang masuk bagi anjing dan pribumi). Ketika kemudian sekarang ini Pemerintah Kota Surabaya hendak mengusir seniman dari kompleks Balai Pemuda, jangan-jangan lantas juga dipasang plang: “Seniman dan Anjing Dilarang Masuk.” Naudzubillah min dzalik.
Baca lebih lanjut

Sisi Gelap Terang “Jatim Specta Night Carnival” di Blitar

IMG_0035
Catatan Henri Nurcahyo

Jatim Specta Night Carnival (JSNC) adalah pawai budaya tahunan yang secara khusus diselenggarakan pada malam hari. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur sebagai penyelenggaranya memang sengaja memilih waktu malam agar event ini berbeda dengan kebanyakan pawai yang serupa dan sudah banyak dilaksanakan di mana-mana. Meskipun, Sumenep misalnya, sebetulnya sudah punya tradisi menggelar lomba musik dhuk-dhuk dalam bentuk pawai yang juga dilakukan pada malam hari. Baca lebih lanjut

“Maen Pukulan” dalam Tantangan Zaman

Oleh Henri Nurcahyo

Masyarakat Betawi punya istilah tersendiri untuk menyebut pencak silat, yaitu “Maen Pukulan”. Disebut Maen Pukulan karena kegiatan ini menandakan ada unsur kesenangan lantaran semula memang hanya sebuah permainan (main, maen) dan bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik atau sifat jago. Sedangkan kata “pukulan” lantaran gerakan dalam pencak silat ini didominasi pukulan tangan dan menabukan penggunaan kaki atau tendangan. Kalau toh ada tendangan hanya sebatas pusar ke bawah. Baca lebih lanjut

Ada yang Hilang pada Tari Topeng

Foto Wahyu Eka Prasetya

Foto Wahyu Eka Prasetya

MALANG: Menyaksikan banyak tari topeng belakangan ini, terasa ada sesuatu yang hilang. Banyak orang yang sanggup menari topeng dengan baik dalam hal teknis menari, namun semakin sedikit bahkan nyaris tidak ada yang membawakannya dengan total. Tari topeng sudah kehilangan roh.

Keprihatinan ini disampaikan oleh Yongki Irawan, pegiat budaya dari Malang dalam acara rutin bernama Sinau Embongan ketujuh yang kali ini memilih topik “Topeng Malangan” di Rumah Budaya Peneleh Kota Malang, Jalan Bogor 1, Jum’at malam (25/12). Selain Yongki, tampil sebagai narasumber adalah Priyo Sunanto Sidhy, dan Suroso, pelaku Wayang Topeng Kedungmonggo Malang, serta juga Henri Nurcahyo, penulis buku, yang didaulat untuk memaparkan perihal Budaya Panji. Baca lebih lanjut

Balekambang, Hotel Raja Hayam Wuruk?

001Ketika Raja Hayam Wuruk (dan rombongannya) berulangkali mengunjungi Candi Penataran, dimanakah mereka bermalam? Candi Palah (nama kuno Penataran) dibangun sepanjang masa tiga kerajaan, sekitar 250 tahun lamanya. Candi ini banyak difungsikan sebagai semacam kampus pembelajaran. Bahkan Bujangga Manik jauh-jauh datang dari Tanah Sunda belajar berbulan-bulan di sini. Baca lebih lanjut