Dari JFC hingga Jatim Specta

OLEH HENRI NURCAHYO
Upload
Sejak Kabupaten Jember sukses menggelar Jember Fashion Carnival (JFC), banyak kota mencoba menirunya. Pawai Budaya menjadi wabah. Bupati Banyuwangi malah langsung menyewa arsitek JFC untuk membuat acara serupa yang kemudian sukses dengan nama Banyuwangi Etno Carnival (BEC). Sementara di kota-kota lain gagal bersaing dengan JFC. Mungkin hanya Surakarta yang lumayan berkibar dengan Solo Batik Carnival (SBC). Baca lebih lanjut

Iklan

Cak Kadar dan Warisan yang Hilang

OLEH
HENRI NURCAHYO
IMG-20140418-00726
Tanggal 13 April 2014, tepat 4 (empat) tahun Kadaruslan meninggal dunia. Kalangan seniman Surabaya lantas membuat acara Tribute to Cak Kadaruslan hari Sabtu (12/4) di Galeri Surabaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya. Tidak banyak yang menyadari, bahwa sejumlah warisan monumental dari Cak Kadar ternyata sudah tidak ada lagi sekarang ini. Kemanakah nyala api yang pernah dikobarkan oleh kompor kesenian Surabaya ini?

Sosok Kadaruslan, yang akrab dipanggil Cak Kadar, pernah menorehkan jasanya sebagai wartawan, pejuang revolusi fisik, aktivis Angkatan 66, pendidik, pembina kesenian, budayawan dan khususnya penggerak aktivitas seni budaya di Surabaya serta berbagai aktivitas sosial budaya tanpa kenal batasan.

Lelaki kelahiran Jumat Kliwon tahun 1931 itu pula yang ikut membidani Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) tahun 1967, dan kemudian yang menghidupkannya kembali tahun 1986, ketika sempat vakum bertahun-tahun. Meski secara akademik lebih pantas disebut sebagai Sanggar, namun Aksera adalah kawah candradimuka pelukis-pelukis Surabaya yang dikenal militan. Alumni Aksera pantas berbangga diri menjadi pelukis yang berkarakter, tidak larut dalam selera pasar, dan memiliki ciri khas sendiri-sendiri yang tidak dimiliki pelukis lainnya. Tidak ada gaya yang seragam sebagai madzab Aksera, sebagaimana produk Bandung dan Yogyakarta. Madzab Aksera justru keberagaman itu sendiri. Baca lebih lanjut

Penghargaan buat Petugas Sampah, Ironi Pak Sukri

Catatan Henri Nurcahyo
Jambangan-20131114-00223Karang Pilang-20131114-00225
Namanya singkat, Sukri. Hanya itu saja. Namun pengabdiannya dalam pengolahan sampah jauh lebih panjang dari namanya. Selama 22 (baca: dua puluh dua) tahun hidupnya mengabdi sebagai petugas pengolahan sampah di Depo Sampah Bibis Karah kecamatan Jambangan Surabaya. Toh hal ini tidak menjadikannya sebagai sosok yang istimewa. Sukri dianggap bukan sebagai tokoh, tidak layak ditulis menjadi berita ketika sakit kritis dan opname di rumahsakit. Bahkan ketika dia menghembuskan nafas terakhir pun Sukri dianggap tidak ada maknanya apa-apa. Baca lebih lanjut

Kota Gunung Mas Mendadak Terkenal

Oleh Henri Nurcahyo

LOGO GUNUNG MASKetika terjadi kasus penangkapan ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Muhtar, saya tertarik dengan nama kota Gunung Mas yang disebut-sebut dalam kasus itu. Diberitakan, bahwa Akil tertangkap tangan karena diduga sedang menerima suap terkait dengan kasus pemilihan kepala daerah kabupaten Gunung Mas di Kalimantan Tengah. Mengapa dinamakan Gunung Mas? Apakah memang ada emas sebesar gunung di kota itu, sehingga kemudian diperebutkan banyak orang? Baca lebih lanjut

Paket Umrah Tanpa Wisata, Siapa Mau?

IMG_4945Pengalaman saya menjalankan ibadah umrah melalui rombongan travel, saya merasakan lebih banyak wisatanya ketimbang ibadahnya. Sebetulnya banyak item yang bisa dipangkas, diganti yang lebih bermanfaat. Bahkan, kalau mau, ibadah umrah bisa dimanfaatkan untuk menjalani semua tahapan ibadah haji yang biasanya tidak dijalani saat umrah, seperti lempar jumrah dan wuquf di Arafah. Kalau kita bisa membentuk rombongan sendiri, tentu biro perjalanan akan mau menuruti paket Umrah Tanpa Wisata itu. Mengapa tidak? Baca lebih lanjut

Susahnya Menjadi Orang Biasa

Oleh Henri Nurcahyo
Orang Biasa
Menjadi orang biasa, ternyata kurang menguntungkan dibanding menjadi miskin. Yang dimaksud “orang biasa” adalah, kaya tidak, miskin juga tidak. Tetapi disebut “kelas menengah” rasanya kok juga tidak termasuk. Jumlah orang-orang biasa ini jauh lebih banyak daripada orang miskin, apalagi dibanding orang kaya. Celakanya, menjadi orang biasa tidak dapat menikmati kemudahan fasilitas sebagaimana orang kaya, namun sering diabaikan karena dianggap “tidak miskin”. Baca lebih lanjut

Sinetron Lakon Khofifah

OLEH HENRI NURCAHYO

Khofifah Indar Parawansah akhirnya gagal menjadi calon Gubernur Jawa Timur. Ini peristiwa yang menarik dicermati sebagai “teater sosial” yang telah sanggup menciptakan ketegangan perasaan publik beberapa bulan belakangan ini. Lakon tentang Khofifah bagaikan sinetron yang membuat masyarakat penasaran untuk tahu ending-nya. Lakon Khofifah bagaikan novel atau film yang mengaduk-aduk perasaan penonton sehingga melahirkan empati terhadap tokoh utama. Khofifah telah hadir sebagai sosok yang “dizalimi” terlepas apakah dia benar-benar dizalimi ataukah memang situasinya membuat dia seolah-olah dizalimi. Karena itu, bisa dibayangkan kalau ternyata dia benar-benar lolos menjadi Cagub, maka bukan tidak mungkin akan mampu menumbangkan rezim Karsa. Baca lebih lanjut