Perspektif Budaya Pencemaran Sungai

PENCEMARAN sungai akibat limbah tetes tebu yang pernah menggegerkan Surabaya dan sekitarnya ternyata “tidak terlalu dipermasalahkan” masyarakat. Buktinya, tidak ada gugatan class action atas inisiatif warga sendiri, bahkan surat-surat pembaca di media tak ditemukan protes keras untuk menuntut penyelesaiannya. Mengapa persoalan yang sedemikian serius itu justru dianggap sepi? Barangkali, inilah salah satu bentuk sikap budaya masyarakat yang sudah terbiasa dirugikan kepentingannya, sehingga ketika mereka tenggelam sebatas leher pun tetap tak protes karena air memang belum masuk ke lubang hidung.
Baca lebih lanjut

Benang Ruwet Lapindo

Persoalan semburan lumpur Lapindo bagaikan benang ruwet yang tetap saja tak terurai hingga hitungan bulan kelimabelas sekarang ini. Semua pihak berada dalam posisi dilematis, baik masyarakat korban, pemerintah dan juga Lapindo sendiri. Sudah terlanjur salah kaprah sejak awal, sehingga sekarang terbentur di jalan buntu. Meski semua pihak menyalahkan Lapindo, tetapi tetap saja masih belum ada dasar hukum yang jelas bahwa memang Lapindo yang bersalah.
Baca lebih lanjut

Kutukan Bencana Korban Lumpur

Bencana demi bencana akan terus terjadi selama ribuan korban Lumpur Sidoarjo tidak ada yang bertanggungjawab. Ini bukan kutukan, tapi jangan salahkan kalau ada yang memiliki suara batin seperti itu. Pemerintah telah lepas tangan, Lapindo terus mengelak, rakyat unjuk rasa dianggap penjahat pengganggu kepentingan umum, ribuan pengungsi berdesakan di los-los pasar, Hak Azasi Manusia mereka telah dirampas habis-habisan. Jadi, salahkah kalau kemudian muncul kutukan seperti itu???
Baca lebih lanjut