Paket Umrah Serasa Haji, Siapa Mau?

IMG_4955Tulisan saya mengenai “Paket Umrah Tanpa Wisata” ternyata mendapat banyak tanggapan. Ada yang langsung mendaftarkan diri untuk ikut bergabung dengan paket tersebut. Padahal itu masih berupa gagasan saya saja. Baca di sini: https://henrinurcahyo.wordpress.com/2013/08/06/paket-umrah-tanpa-wisata-siapa-mau/.

Nah setelah saya menghubungi pihak penyelenggara ibadah umrah, ternyata gagasan saya disambut baik. Gagasan berkembang menjadi lebih sempurna, bukan “Umrah Tanpa Wisata” melainkan “Umrah Serasa Haji”. Maksudnya, bagaimana kita menjalankan ibadah umrah namun rasanya (hampir) persis sama dengan ibadah haji. Kok bisa? “Bisa saja, bisa diatur, asal dapat membentuk rombongan sendiri,” kata petugas penyelenggara umrah tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

Dilema Desakralisasi di Tanah Suci

Oleh Henri Nurcahyo

Royal Clock Tower di tengah hamparan penghancuran.

Royal Clock Tower di tengah hamparan penghancuran.

Terjawab sudah apa yang membuat saya penasaran ketika berada di Tanah Suci Makkah. Ternyata rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan sudah berubah menjadi gedung perpustakaan dan sekolah. Di lahan bekas rumah kediaman Abu Bakar sudah didirikan mal mewah. Dan yang menyedihkan, kediaman Khadijah, isteri pertama Rasulullah, sudah berubah menjadi kakus umum di dekat Masjidil Haram. Astaghfirullah. Baca lebih lanjut

Paket Umrah Tanpa Wisata, Siapa Mau?

IMG_4945Pengalaman saya menjalankan ibadah umrah melalui rombongan travel, saya merasakan lebih banyak wisatanya ketimbang ibadahnya. Sebetulnya banyak item yang bisa dipangkas, diganti yang lebih bermanfaat. Bahkan, kalau mau, ibadah umrah bisa dimanfaatkan untuk menjalani semua tahapan ibadah haji yang biasanya tidak dijalani saat umrah, seperti lempar jumrah dan wuquf di Arafah. Kalau kita bisa membentuk rombongan sendiri, tentu biro perjalanan akan mau menuruti paket Umrah Tanpa Wisata itu. Mengapa tidak? Baca lebih lanjut

Catatan Pengalaman Umroh (15): Ketenangan Batin atau Kesenangan Batin?

15Pulang dari umrah, saya merasakan sebuah kepuasan tersendiri yang menyenangkan. Hati rasanya tenang, tanpa beban. Rasa capek lantaran bepergian, tidak sebanding dengan kesenangan yang diperoleh sepulang umrah. Tidak ada kata yang lebih pantas diucapkan kecuali “Alhamdulillah” karena sudah selesai menjalani ibadah umrah. Meskipun hanya ibadah sunnah. Tetapi pada saat itulah saya bertanya-tanya, apakah yang sebetulnya saya dapatkan sepulang umrah? Ketenangan atau kesenangan? Artinya beda lho…. Baca lebih lanjut

Surat Terbuka buat Ahok: Apresiasi pada Tukang Ojek Jakarta

Bapak Ahok yang terhormat

Terima kasih telah mengapresiasi surat saya yang lalu mengenai saran mengatasi macet, berupa “penghapusan hari libur”. Tinggal saya menunggu, apakah saran saya itu memang dapat dilaksanakan ataukah tidak.

Kembali saya berkirim surat kepada Bapak Ahok karena hanya alamat email Bapak yang saya ketahui setelah beberapa waktu lalu mengumumkannya secara terbuka. Memang ada niatan berkirim surat ke Bapak Jokowi, tapi saya pikir sama saja. Bukankah Jokowi – Ahok adalah dwi-tunggal?

Kali ini saya ingin mengajukan usulan, yaitu agar Pemerintah DKI Jakarta memberikan penghargaan khusus kepada para tukang ojek sepeda motor yang banyak bertebaran di seluruh pelosok Jakarta. Baca lebih lanjut

Catatan Pengalaman Umrah (14): Taubatan Nasuha

IMG_4957Satu hal penting yang menjadi motivasi kuat saya dalam ibadah umrah adalah melakukan taubatan nasuha. Taubat alias tobat yang benar-benar murni dan tulus, dan bukan kapok lombok (tobat dan kumat lagi). Tetapi benarkah saya telah betul-betul taubat? Bukankah selama ini saya sudah berulangkali menyatakan tobat namun ternyata mengulangi dosa lagi? Sampai seberapa kuat pernyataan tobat itu mampu mengekang saya untuk tidak berbuat dosa lagi? Sampai kapan? Jangan-jangan setelah euforia umrah berlalu, saya kumat lagi. Naudzubillah min dzalik. Baca lebih lanjut

Catatan Pengalaman Umrah (13): Bagaikan Adam dan Hawa

IMG_4862Mereka yang pernah umrah dan haji pasti tahu yang namanya Jabal Rahmah. Konon di gunung inilah dulu Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah berpisah 100 tahun (ada yang bilang 200 tahun). Maka setiap orang yang mengunjunginya selalu berdoa mengenai hal-hal terkait kerukunan rumahtangga. Yang belum punya jodoh berharap mendapat jodoh. Konon ada cerita seorang suami berdoa agar dapat berpoligami, sementara isteri yang mengamini di sebelahnya tidak tahu persis apa yang diucapkan suami dalam doanya itu. Baca lebih lanjut