Wawancara Henri Nurcahyo oleh Henri Nurcahyo

Di kalangan seniman Jawa Timur, nama Henri Nurcahyo sudah cukup dikenal sebagai pengamat dan penulis. Namun kalangan aktivis LSM Lingkungan Hidup juga mengenal namanya. Sementara di sisi yang lain, nama yang sama juga berkibar sebagai wartawan di berbagai media massa. Baimanakah sebenarnya sosok lelaki yang satu ini?
Berikut ini adalah wawancara Henri Nurcahyo dengan Henri Nurcahyo  .

DSC_1453
Anda itu pekerjaannya apa?

Ini pertanyaan sepele yang sulit dijawab. Anak-anak saya kalau ditanya gurunya atau harus mengisi formulir juga suka bingung menulisnya. Kalau saya jawab “wartawan” pasti diikuti pertanyaan berikut “Wartawan apa? Nulis dimana? Koran apa? Jawa Pos yaa?” Kalau saya jawab “Penulis”, orang malah bingung. Mana ada pekerjaan kok “Penulis.” Malah ada yang mengira penulis itu sama dengan tukang leter, yang suka bikin papan nama itu. Atau Penulis Kaligrafi. Kalau dijawab “seniman” juga sulit menjelaskannya, sebab dikira sama dengan pelukis atau pemain teater. Saya tidak menyalahkan yang bertanya, tetapi sudah sejak lama sekali saya tidak mau terkotak-kotak oleh format apapun, termasuk pekerjaan. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer lewat tokoh Minke dalam novelnya “Bumi Manusia”: Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku adalah bumi manusia dengan segala persoalannya. Baca lebih lanjut

Obsesi Ayu Sutarto di Tepi Kali Bedadung

OLEH HENRI NURCAHYO

????????????????????????????????????

Prof. Ayu Sutarto, pembicara Kongres Kebudayaan Jatim 2015

Genap 100 hari Ayu Sutarto meninggal dunia. Budayawan dan akademisi yang tak kenal lelah itu harus mengakhiri aktivitasnya yang luar biasa pada tanggal 1 Maret 2016 yang lalu setelah koma hampir dua bulan. Bapak empat anak itu meninggalkan warisan sangat berharga, berupa perpustakaan berisi 15.000 buku lebih dan Yayasan Untukmu si Kecil (USK) yang masih terus aktif berkegiatan. Masih saja anak-anak bermain setiap Sabtu dan Minggu dan banyak mahasiswa yang meminjam buku untuk bahan studi. Baca lebih lanjut

Cak Kadar dan Warisan yang Hilang

OLEH
HENRI NURCAHYO
IMG-20140418-00726
Tanggal 13 April 2014, tepat 4 (empat) tahun Kadaruslan meninggal dunia. Kalangan seniman Surabaya lantas membuat acara Tribute to Cak Kadaruslan hari Sabtu (12/4) di Galeri Surabaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya. Tidak banyak yang menyadari, bahwa sejumlah warisan monumental dari Cak Kadar ternyata sudah tidak ada lagi sekarang ini. Kemanakah nyala api yang pernah dikobarkan oleh kompor kesenian Surabaya ini?

Sosok Kadaruslan, yang akrab dipanggil Cak Kadar, pernah menorehkan jasanya sebagai wartawan, pejuang revolusi fisik, aktivis Angkatan 66, pendidik, pembina kesenian, budayawan dan khususnya penggerak aktivitas seni budaya di Surabaya serta berbagai aktivitas sosial budaya tanpa kenal batasan.

Lelaki kelahiran Jumat Kliwon tahun 1931 itu pula yang ikut membidani Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) tahun 1967, dan kemudian yang menghidupkannya kembali tahun 1986, ketika sempat vakum bertahun-tahun. Meski secara akademik lebih pantas disebut sebagai Sanggar, namun Aksera adalah kawah candradimuka pelukis-pelukis Surabaya yang dikenal militan. Alumni Aksera pantas berbangga diri menjadi pelukis yang berkarakter, tidak larut dalam selera pasar, dan memiliki ciri khas sendiri-sendiri yang tidak dimiliki pelukis lainnya. Tidak ada gaya yang seragam sebagai madzab Aksera, sebagaimana produk Bandung dan Yogyakarta. Madzab Aksera justru keberagaman itu sendiri. Baca lebih lanjut

Kali Porong Dulu Penyelamat Banjir, Kini Luapan Lumpur

Henri Nurcahyo dan Buku Sidoardjo Tempo Doeloe

??????????Sejarah Sidoarjo kini tidak lagi hanya sebentuk lisan. Cerita kawasan di selatan Surabaya itu kini telah dibukukan oleh Henri Nurcahyo dan Dukut Imam Widodo. Seperti apa Sidoarjo tempo dulu dan bagaimana penulisannya?

MIFTAKHUL FS

Menulis sejarah tak ubahnya bermain puzzle. Penulisannya harus menggabungkan telaah akan dokumentasi, benda-benda peninggalan, beragam cerita, dan juga literasi menjadi catatan yang utuh. Mereka juga harus membongkar memorinya tentang segala hal yang pernah dibaca dan didengarnya tentang sejarah yang hendak ditulisnya. Baca lebih lanjut

In Memoriam Hardono: Tak Menyerah Melukis dengan Tangan Kiri

Oleh Henri Nurcahyo

FOTO - 4BERITA DUKA. Innalillahi wainna ilaihi rajiun…Telah meninggal dunia Bpk. Hardono (pelukis/sketser) di kediamannya Rabu dinihari td pk. 00. 30 wib Kita doakan semoga amal ibadah almarhum semasa hidupnya diterima Allah Swt, dan mendapat tempat terindah di sisiNya. Serta diampuni semua kesalahannya. Rumah duka kompleks Perumahan Pejaya Anugerah F 22 Trosobo Sidoarjo. Baca lebih lanjut

Hardjonoisme – Hardjono WS

OLEH HENRI NURCAHYO

HardjonoSeniman teater yang khusus menekuni dunia anak adalah sesuatu yang langka di negeri ini. Lebih langka lagi manakala bukan hanya sekadar menjadi sutradara, melainkan juga produser, menulis naskah, puisi, cerpen, dongeng, novel, esai dan menciptakan lagu sekaligus memainkan musik. Maka Hardjono Wirjosoetrisno alias Hardjono WS adalah seniman yang langka itu. Jebolan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera) itu juga melukis, membuat patung serta memahat. Lengkap sudah kelangkaannya. Baca lebih lanjut

Keteladanan M. Thalib Prasojo

Oleh Henri Nurcahyo

Munthalib Prasojo telah pergi untuk selama-lamanya. Lelaki yang akrab dipanggil Eyang Thalib itu meninggalkan banyak keteladanan yang dapat dikaji dan ditindaklanjuti oleh kita semua. Bapak empat anak ini meninggal dunia saat berumur 79 tahun, akibat penyakit asma yang sudah menahun. Berikut adalah sejumlah keteladanan itu. Baca lebih lanjut