Out of the Box Masdibyo

Catatan Henri Nurcahyo

Barangkali sosok masdibyo tak ubahnya Jokowi. Meski banyak orang yang nyinyir dan terus menerus melontarkan ketidak-sukaan, dia menjawabnya dengan kerja, kerja dan kerja. Maka pameran demi pameran terus menerus dilakukannya, sendiri atau bersama.

Terhitung sejak tahun 1987 atau 29 (dua puluh sembilan) tahun yang lalu, pelukis kelahiran Pacitan ini sudah mencatatkan pameran tunggal ke 44 (empat puluh empat) kali. Berarti rata-rata dalam setahun lebih dari satu kali pameran tunggal, malah pernah setahun 3 kali kali pameran tunggal (1995, 1997, 1999, 2005, 2006).   Bahkan pernah setahun pameran tunggal hingga 4 (empat) kali (2003). Siapakah yang sanggup menandingi produktivitasnya dalam hal pameran tunggal seperti ini?
Baca lebih lanjut

Iklan

Kontemplasi Merunduk Beni Dewo

Catatan Henri Nurcahyo

Beni Dewo pameran tunggal di AJBS Art Gallery Surabaya. Tema lukisannya adalah Humility yang dimaknai sebagai andhap asor atau kerendahan hati. Lukisannya berupa figur-figur yang semuanya dengan kepala tertunduk, menunduk atau merunduk.

Menurut Beni, Humility merupakan falsafah hidup merendahkan diri tanpa menghilangkan wibawa diri. Merunduk seperti tanaman padi yang siap dipanen. Bahwa sikap menunduk menunjukkan sikap rendah hati, tidak sombong dan semacamnya. Baca lebih lanjut

Profesionalitas Ivan Hariyanto

Oleh Henri Nurcahyo

Apakah yang dapat dikenang dari Ivan Hariyanto? Pelukis asal Banyuwangi itu dikenal sebagai lelaki temperamental yang suka meledak-ledak dalam banyak hal. Tidak sedikit temannya yang pernah berurusan dengan kemarahannya, namun toh kembali akur lagi. Dalam sebuah diskusi dia tidak pernah berdiam diri. Mengacungkan jari, bertanya atau menggugat sesuatu yang menjadikan diskusi malah seru. Baca lebih lanjut

Perjalanan Imajinasi Karya Sembilan Perupa


JAKARTA: Pameran Lukisan “Semanggi Suroboyo” di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia Jakarta, menunjukkan keberagaman karya sembilan perupa yang memesona. Tidak satupun dari mereka yang mengesankan kemiripan satu sama lain. Sebanyak 52 lukisan dari 9 perupa Surabaya ini berhasil menyajikan 9 pesona yang masing-masing memiliki daya pikat tersendiri.
Dalam pameran yang berlangsung sejak hari Sabtu malam (13/01) hingga tanggal 21 Januari itu pengunjung seperti berada dalam sebuah ajang perjamuan dengan sembilan menu yang berlainan rasanya. Tinggal dipilih sesuai selera, masing-masing memiliki daya tarik yang berbeda, diantara mereka juga tidak ada yang saling berebut untuk menonjol sendiri. Tidak ada yang yunior maupun senior, meski dari sisi usia keberagaman perupa ini berkisar dari 76 tahun (Makhfoed) hingga 51 tahun (Widodo Basuki). Baca lebih lanjut

Ludruk Karya Budaya: Seperti Raden Panji Mencari Sekartaji


Sudah menjadi cerita klise bahwa ada pembantu rumahtangga yang dihamili oleh juragan atau anak juragan. Biasanya, solusi dari kasus ini seringkali merugikan pihak pembantu dan mengesankan juragan yang arogan. Namun kali ini Ludruk Karya Budaya (LKB) Mojokerto mampu menyajikan dengan gaya yang berbeda sehingga menjadi tontonan yang menarik. Baca lebih lanjut

Eksplorasi Artistik Akuarium Dolly

Alunan dangdut “Buah Simalakama” mengawali pertunjukan, seiring dengan terbukanya layar panggung. Tidak lama mengalun, terpampanglah pemandangan, tiga buah sofa merah menyala, seorang perempuan memperlihatkan punggung telanjangnya, duduk di ujung punggung sofa, menghadap ke dinding. Ini adalah sebuah awalan yang bagus untuk menggiring imajinasi penonton ke sebuah dunia malam bernama Dolly.
Baca lebih lanjut

Kidung Bhagavat Gita yang Renyah

catatan ringan henri nurcahyo

Sebuah pertunjukan yang menamakan diri Drama Wayang (Drayang) digelar di Gedung Kesenian Cak Durasim (10/11) membawakan lakon “Kidung Bhagavat Gita”. Dialog panjang yang sakral antara Sri Kreshna dan Arjuna itu terasa “renyah” karena dibawakan dengan cara-cara yang populer, enak ditonton, artistik, dan (ini yang menarik) hampir semua dialognya berbahasa Indonesia dan sesekali malah menggunakan Jawa Suroboyoan.

Lantaran memang merupakan sebuah pertunjukan khusus, penonton harus punya undangan dengan kursi yang sudah ditentukan, kecuali mau duduk di lantai. Yang tak bisa masuk disediakan layar monitor lebat di pendopo, lengkap dengan puluhan kursi. Pertunjukan ini juga menjadi istimewa karena dihadiri Gubernur Jatim, Soekarwo dan istri, juga Sekdaprov, Deputi Bekraf, dan pejabat Dirjen Kebudayaan. Baca lebih lanjut