Hening Purnamawati – Meninggal Dunia dalam Hening

OLEH HENRI NURCAHYO

Hening Purnamawati, dikenal sebagai perempuan pelukis surrealis yang memiliki gaya tersendiri. Berbagai penghargaan diraihnya, sejumlah pameran bergengsi diikutinya termasuk pameran di banyak negara. Tetapi sudah cukup lama berita tentang Hening memang betul-betul hening alias sepi. Tahu-tahu hari Rabu (28/6/1) menjelang tengah hari beredar info mengejutkan di media sosial bahwa Hening Purnamawati meninggal dunia dalam usia 57 tahun. Baca lebih lanjut

Iklan

Pernikahan Jahanam, Alternatif Ludruk Kendho Kenceng

Catatan Henri Nurcahyo
01-800x533
Pergelaran ludruk dengan lakon “Pernikahan Jahanam” memang pilihan judul yang diluar kebiasaan pementasan ludruk pada umumnya, meski bukan hal baru sama sekali. Disamping itu, “Kendho Kenceng” merupakan nama yang unik untuk sebuah kelompok ludruk, yang biasanya menggunakan kata “Budaya”. Dan itulah yang terjadi di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKB Jatim) Malang, Sabtu lalu (19/11). Baca lebih lanjut

Obituari Rudi Isbandi: Pelukis Pemikir, Melukis Tanpa Berpikir

Oleh HENRI NURCAHYO

rudi-isbandi-dan-tedja-suminar-keduanya-kini-bersatu-dalam-keabadian-foto-henri-nurcahyo-for-jawa-pos

Rudi Isbandi (kiri) bersama Tedja Suminar di Galeri Surabaya


Belum genap seratus hari Tedja Suminar meninggal dunia (80 tahun), Rudi Isbandi menyusulnya ke alam baka (79 tahun). Maka habislah sudah generasi tonggak seni rupa Surabaya. Setelah Karyono Ys, Krishna Mustadjab, M. Daryono, M. Roeslan, Amang Rahman, O.H. Supono, Lim Keng dan Gatut Kusumo yang sebetulnya juga pelukis, disamping sastrawan dan lebih dikenal sebagai sineas. Kini disusul Tedja Suminar dan Rudi Isbandi yang wafat seminggu yang lalu (18/9). Baca lebih lanjut

Remang-remang 50 Tahun Aksera

OLEH HENRI NURCAHYO
aksera-alumni-foto-henri-nurcahyo
Nyaris tidak banyak yang tahu, hampir 50 (lima puluh) tahun yang lalu pernah lahir Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Meski hanya berumur 5 tahun, Aksera mampu melahirkan para perupa yang tangguh, memiliki karakter kuat dan sanggup bertarung sendirian di medan persilatan seni rupa modern Indonesia. Aksera melahirkan kemandirian, bukan sebuah madzab yang cenderung seragam. Justru keanekaragaman itulah yang menjadi kekuatannya. Aksera adalah sebuah mitos dalam khasanah seni rupa di Surabaya, bahkan bisa jadi di Indonesia. Baca lebih lanjut

Tipudaya Mataram Menjebak “Ki Ageng Mangir”

01Lakon Ki Ageng Mangir sepertinya sudah identik dengan pergelaran ketoprak itu sendiri. Lakon ini sudah biasa dimainkan oleh ketoprak manapun, dan sepertinya sudah menjadi salah satu lakon wajib yang musti dihapal oleh siapapun yang mengaku sebagai orang ketoprak. Tidak terkecuali, pementasan yang disajikan oleh kelompok Sri Aji Kawedar dari Tuban dalam pementasan di Taman Krida Budaya Jatim, di Malang, Sabtu lalu (30/1/16). Baca lebih lanjut

Ada yang Hilang pada Tari Topeng

Foto Wahyu Eka Prasetya

Foto Wahyu Eka Prasetya

MALANG: Menyaksikan banyak tari topeng belakangan ini, terasa ada sesuatu yang hilang. Banyak orang yang sanggup menari topeng dengan baik dalam hal teknis menari, namun semakin sedikit bahkan nyaris tidak ada yang membawakannya dengan total. Tari topeng sudah kehilangan roh.

Keprihatinan ini disampaikan oleh Yongki Irawan, pegiat budaya dari Malang dalam acara rutin bernama Sinau Embongan ketujuh yang kali ini memilih topik “Topeng Malangan” di Rumah Budaya Peneleh Kota Malang, Jalan Bogor 1, Jum’at malam (25/12). Selain Yongki, tampil sebagai narasumber adalah Priyo Sunanto Sidhy, dan Suroso, pelaku Wayang Topeng Kedungmonggo Malang, serta juga Henri Nurcahyo, penulis buku, yang didaulat untuk memaparkan perihal Budaya Panji. Baca lebih lanjut

Dunia Lain Jansen Jasien

Oleh HENRI NURCAHYO
Jansen Jasien JP
Suatu hari di desa Terung Wetan, di bawah rerimbunan bambu, Jansen Jasien bercerita panjang lebar perihal sejarah dan purbakala. Dia sedang menunjukkan rasa yakinnya, bahwa desa Terung pada masa lalu adalah sebuah kadipaten, atau kabupaten. Lelaki berambut panjang itu menunjukkan bukti-bukti temuannya berupa benda-benda purbakala di berbagai tempat di kawasan Terung dan sekitarnya. Dia memperkirakan, luas Kadipaten Terung tempo doeloe sekitar 2.000 – 5.000 hektar, atau seluas kecamatan Krian saat ini. Baca lebih lanjut