Obsesi Ayu Sutarto di Tepi Kali Bedadung

OLEH HENRI NURCAHYO

????????????????????????????????????

Prof. Ayu Sutarto, pembicara Kongres Kebudayaan Jatim 2015

Genap 100 hari Ayu Sutarto meninggal dunia. Budayawan dan akademisi yang tak kenal lelah itu harus mengakhiri aktivitasnya yang luar biasa pada tanggal 1 Maret 2016 yang lalu setelah koma hampir dua bulan. Bapak empat anak itu meninggalkan warisan sangat berharga, berupa perpustakaan berisi 15.000 buku lebih dan Yayasan Untukmu si Kecil (USK) yang masih terus aktif berkegiatan. Masih saja anak-anak bermain setiap Sabtu dan Minggu dan banyak mahasiswa yang meminjam buku untuk bahan studi. Baca lebih lanjut

Kampung Organik, Ekowisata dan Pendidikan Lingkungan

Jala-jalan - 1Berwisata di pedesaan itu banyak ragamnya. Menghirup udara segar, jalan-jalan menyusuri pematang sawah, menghayati pemandangan indah, menikmati makan dan minuman organik serta menyaksikan berbagai contoh budidaya organik di lahan terbuka maupun RSO (Rumah Sayur Organik). Bagaimana kalau sesekali merasakan menjadi petani, belajar bertani secara organik, atau mengolah sampah menjadi pupuk kompos?

Tertarik berwisata seperti itu? Cobalah berkunjung ke dusun Penanggungan, desa Penanggungan, Trawas, Mojokerto. Di situlah Kampung Organik “Brenjonk” berada. Sebuah komunitas desa yang sepenuhnya melakukan pertanian tanpa menggunakan pestisida dan pupuk kimia, bertani selaras dengan keseimbangan alam. Baca lebih lanjut

Tipudaya Mataram Menjebak “Ki Ageng Mangir”

01Lakon Ki Ageng Mangir sepertinya sudah identik dengan pergelaran ketoprak itu sendiri. Lakon ini sudah biasa dimainkan oleh ketoprak manapun, dan sepertinya sudah menjadi salah satu lakon wajib yang musti dihapal oleh siapapun yang mengaku sebagai orang ketoprak. Tidak terkecuali, pementasan yang disajikan oleh kelompok Sri Aji Kawedar dari Tuban dalam pementasan di Taman Krida Budaya Jatim, di Malang, Sabtu lalu (30/1/16). Baca lebih lanjut

Resensi Buku: Ilmu Kehidupan dalam Perguruan Silat

scan0006
Judul buku : Pencak Silat Setia Hati. Sejarah, Filosofi, Adat Istiadat
Penulis : Agus Mulyana
Penerbit : Tulus Pustaka, Bandung, 2016
Tebal Buku : xvi + 216 hlm; 14,5 x 20,5 cm
Peresensi : Henri Nurcahyo

Dalam pandangan masyarakat kebanyakan, Pencak Silat adalah salah satu olahraga seni beladiri khas Indonesia. Namun Pencak Silat (kadang cukup disebut Silat saja), juga digolongkan sebagai kesenian, disebut Seni Pencak Silat. Tetapi ternyata Silat bukan sekadar urusan olahraga atau kesenian belaka. Dalam tubuh perguruan silat juga mengajarkan berbagai hal terkait dengan hakekat kehidupan. Perguruan silat tak ubahnya bagai universitas tersendiri yang mengajarkan filsafat dan kebudayaan sebagai dasar penting bagi kehidupan manusia.

Mungkin bagi pelaku silat sendiri, bahwa silat itu masuk olahraga apa kesenian bukan urusan yang penting dipersoalkan. Tetapi ketika berhubungan dengan birokrasi pemerintah, itu menjadi penting untuk dijelaskan. Dampaknya, juga berimbas pada bagaimana masyarakat memposisikan silat ini, sebagai olahraga atau kesenian? Jadi kalau selama ini aktivitas persilatan lebih banyak berurusan dengan dunia olahraga, karena yang eksis di permukaan adalah silat sebagai (salah satu cabang) olahraga. Apalagi pencak silat sudah masuk agenda pertandingan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) bahkan juga SEA Games. Baca lebih lanjut

Ada yang Hilang pada Tari Topeng

Foto Wahyu Eka Prasetya

Foto Wahyu Eka Prasetya

MALANG: Menyaksikan banyak tari topeng belakangan ini, terasa ada sesuatu yang hilang. Banyak orang yang sanggup menari topeng dengan baik dalam hal teknis menari, namun semakin sedikit bahkan nyaris tidak ada yang membawakannya dengan total. Tari topeng sudah kehilangan roh.

Keprihatinan ini disampaikan oleh Yongki Irawan, pegiat budaya dari Malang dalam acara rutin bernama Sinau Embongan ketujuh yang kali ini memilih topik “Topeng Malangan” di Rumah Budaya Peneleh Kota Malang, Jalan Bogor 1, Jum’at malam (25/12). Selain Yongki, tampil sebagai narasumber adalah Priyo Sunanto Sidhy, dan Suroso, pelaku Wayang Topeng Kedungmonggo Malang, serta juga Henri Nurcahyo, penulis buku, yang didaulat untuk memaparkan perihal Budaya Panji. Baca lebih lanjut

Dunia Lain Jansen Jasien

Oleh HENRI NURCAHYO
Jansen Jasien JP
Suatu hari di desa Terung Wetan, di bawah rerimbunan bambu, Jansen Jasien bercerita panjang lebar perihal sejarah dan purbakala. Dia sedang menunjukkan rasa yakinnya, bahwa desa Terung pada masa lalu adalah sebuah kadipaten, atau kabupaten. Lelaki berambut panjang itu menunjukkan bukti-bukti temuannya berupa benda-benda purbakala di berbagai tempat di kawasan Terung dan sekitarnya. Dia memperkirakan, luas Kadipaten Terung tempo doeloe sekitar 2.000 – 5.000 hektar, atau seluas kecamatan Krian saat ini. Baca lebih lanjut

Balekambang, Hotel Raja Hayam Wuruk?

001Ketika Raja Hayam Wuruk (dan rombongannya) berulangkali mengunjungi Candi Penataran, dimanakah mereka bermalam? Candi Palah (nama kuno Penataran) dibangun sepanjang masa tiga kerajaan, sekitar 250 tahun lamanya. Candi ini banyak difungsikan sebagai semacam kampus pembelajaran. Bahkan Bujangga Manik jauh-jauh datang dari Tanah Sunda belajar berbulan-bulan di sini. Baca lebih lanjut