Ada yang Hilang pada Tari Topeng

Foto Wahyu Eka Prasetya

Foto Wahyu Eka Prasetya

MALANG: Menyaksikan banyak tari topeng belakangan ini, terasa ada sesuatu yang hilang. Banyak orang yang sanggup menari topeng dengan baik dalam hal teknis menari, namun semakin sedikit bahkan nyaris tidak ada yang membawakannya dengan total. Tari topeng sudah kehilangan roh.

Keprihatinan ini disampaikan oleh Yongki Irawan, pegiat budaya dari Malang dalam acara rutin bernama Sinau Embongan ketujuh yang kali ini memilih topik “Topeng Malangan” di Rumah Budaya Peneleh Kota Malang, Jalan Bogor 1, Jum’at malam (25/12). Selain Yongki, tampil sebagai narasumber adalah Priyo Sunanto Sidhy, dan Suroso, pelaku Wayang Topeng Kedungmonggo Malang, serta juga Henri Nurcahyo, penulis buku, yang didaulat untuk memaparkan perihal Budaya Panji. Baca lebih lanjut

Iklan

Dunia Lain Jansen Jasien

Oleh HENRI NURCAHYO
Jansen Jasien JP
Suatu hari di desa Terung Wetan, di bawah rerimbunan bambu, Jansen Jasien bercerita panjang lebar perihal sejarah dan purbakala. Dia sedang menunjukkan rasa yakinnya, bahwa desa Terung pada masa lalu adalah sebuah kadipaten, atau kabupaten. Lelaki berambut panjang itu menunjukkan bukti-bukti temuannya berupa benda-benda purbakala di berbagai tempat di kawasan Terung dan sekitarnya. Dia memperkirakan, luas Kadipaten Terung tempo doeloe sekitar 2.000 – 5.000 hektar, atau seluas kecamatan Krian saat ini. Baca lebih lanjut