Hening Purnamawati – Meninggal Dunia dalam Hening

OLEH HENRI NURCAHYO

Hening Purnamawati, dikenal sebagai perempuan pelukis surrealis yang memiliki gaya tersendiri. Berbagai penghargaan diraihnya, sejumlah pameran bergengsi diikutinya termasuk pameran di banyak negara. Tetapi sudah cukup lama berita tentang Hening memang betul-betul hening alias sepi. Tahu-tahu hari Rabu (28/6/1) menjelang tengah hari beredar info mengejutkan di media sosial bahwa Hening Purnamawati meninggal dunia dalam usia 57 tahun. Baca lebih lanjut

Iklan

Seni Rupa Pantang Menyerah

16195624_10209750371330957_5160036349163488375_nApakah seorang perupa (pelukis) harus menyerah menghadapi hambatan? Sebagai pekerja kreatif, tidak ada kata menyerah bagi perupa. Tak bisa melukis dengan tangan kanan, tak ada bahan melukis, kreatif menggunakan media apa saja, dan tetap berpameran dalam kondisi tak berdaya di atas kursi roda. Bukankah sokoguru seniman adalah kreativitas? Bahkan anak-anak berkebutuhan khusus mampu melahirkan karya hebat. Pelajaran berharga dapat dipetik dari perupa tangguh seperti Made Wianta, Hardono, Jansen Jasien, Widodo Basuki, Cak Kandar, Joni Ramlan, Makhfoed, Thalib Prasojo, Rudi Isbandi, Lim Keng dan juga warisan berharga Aksera. Tetapi yang harus diingat, bahwa belajar melukis itu tidak harus menjadi pelukis. Bagaimana lukisan yang disebut bagus itu? Bonsai itu juga seni rupa lho. Kesemuanya ini dibahas dalam buku 261 halaman ini. Berminat? Harga Rp 75 ribu. Hubungi langsung penulisnya: SMS/WA 0812 3100 832, email: henrinurcahyo@gmail.com

Pernikahan Jahanam, Alternatif Ludruk Kendho Kenceng

Catatan Henri Nurcahyo
01-800x533
Pergelaran ludruk dengan lakon “Pernikahan Jahanam” memang pilihan judul yang diluar kebiasaan pementasan ludruk pada umumnya, meski bukan hal baru sama sekali. Disamping itu, “Kendho Kenceng” merupakan nama yang unik untuk sebuah kelompok ludruk, yang biasanya menggunakan kata “Budaya”. Dan itulah yang terjadi di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKB Jatim) Malang, Sabtu lalu (19/11). Baca lebih lanjut

Obituari Rudi Isbandi: Pelukis Pemikir, Melukis Tanpa Berpikir

Oleh HENRI NURCAHYO

rudi-isbandi-dan-tedja-suminar-keduanya-kini-bersatu-dalam-keabadian-foto-henri-nurcahyo-for-jawa-pos

Rudi Isbandi (kiri) bersama Tedja Suminar di Galeri Surabaya


Belum genap seratus hari Tedja Suminar meninggal dunia (80 tahun), Rudi Isbandi menyusulnya ke alam baka (79 tahun). Maka habislah sudah generasi tonggak seni rupa Surabaya. Setelah Karyono Ys, Krishna Mustadjab, M. Daryono, M. Roeslan, Amang Rahman, O.H. Supono, Lim Keng dan Gatut Kusumo yang sebetulnya juga pelukis, disamping sastrawan dan lebih dikenal sebagai sineas. Kini disusul Tedja Suminar dan Rudi Isbandi yang wafat seminggu yang lalu (18/9). Baca lebih lanjut

Remang-remang 50 Tahun Aksera

OLEH HENRI NURCAHYO
aksera-alumni-foto-henri-nurcahyo
Nyaris tidak banyak yang tahu, hampir 50 (lima puluh) tahun yang lalu pernah lahir Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Meski hanya berumur 5 tahun, Aksera mampu melahirkan para perupa yang tangguh, memiliki karakter kuat dan sanggup bertarung sendirian di medan persilatan seni rupa modern Indonesia. Aksera melahirkan kemandirian, bukan sebuah madzab yang cenderung seragam. Justru keanekaragaman itulah yang menjadi kekuatannya. Aksera adalah sebuah mitos dalam khasanah seni rupa di Surabaya, bahkan bisa jadi di Indonesia. Baca lebih lanjut

Sisi Gelap Terang “Jatim Specta Night Carnival” di Blitar

IMG_0035
Catatan Henri Nurcahyo

Jatim Specta Night Carnival (JSNC) adalah pawai budaya tahunan yang secara khusus diselenggarakan pada malam hari. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur sebagai penyelenggaranya memang sengaja memilih waktu malam agar event ini berbeda dengan kebanyakan pawai yang serupa dan sudah banyak dilaksanakan di mana-mana. Meskipun, Sumenep misalnya, sebetulnya sudah punya tradisi menggelar lomba musik dhuk-dhuk dalam bentuk pawai yang juga dilakukan pada malam hari. Baca lebih lanjut

“Maen Pukulan” dalam Tantangan Zaman

Oleh Henri Nurcahyo

Masyarakat Betawi punya istilah tersendiri untuk menyebut pencak silat, yaitu “Maen Pukulan”. Disebut Maen Pukulan karena kegiatan ini menandakan ada unsur kesenangan lantaran semula memang hanya sebuah permainan (main, maen) dan bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik atau sifat jago. Sedangkan kata “pukulan” lantaran gerakan dalam pencak silat ini didominasi pukulan tangan dan menabukan penggunaan kaki atau tendangan. Kalau toh ada tendangan hanya sebatas pusar ke bawah. Baca lebih lanjut