Remang-remang 50 Tahun Aksera

OLEH HENRI NURCAHYO
aksera-alumni-foto-henri-nurcahyo
Nyaris tidak banyak yang tahu, hampir 50 (lima puluh) tahun yang lalu pernah lahir Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Meski hanya berumur 5 tahun, Aksera mampu melahirkan para perupa yang tangguh, memiliki karakter kuat dan sanggup bertarung sendirian di medan persilatan seni rupa modern Indonesia. Aksera melahirkan kemandirian, bukan sebuah madzab yang cenderung seragam. Justru keanekaragaman itulah yang menjadi kekuatannya. Aksera adalah sebuah mitos dalam khasanah seni rupa di Surabaya, bahkan bisa jadi di Indonesia. Baca lebih lanjut

Sisi Gelap Terang “Jatim Specta Night Carnival” di Blitar

IMG_0035
Catatan Henri Nurcahyo

Jatim Specta Night Carnival (JSNC) adalah pawai budaya tahunan yang secara khusus diselenggarakan pada malam hari. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur sebagai penyelenggaranya memang sengaja memilih waktu malam agar event ini berbeda dengan kebanyakan pawai yang serupa dan sudah banyak dilaksanakan di mana-mana. Meskipun, Sumenep misalnya, sebetulnya sudah punya tradisi menggelar lomba musik dhuk-dhuk dalam bentuk pawai yang juga dilakukan pada malam hari. Baca lebih lanjut

“Maen Pukulan” dalam Tantangan Zaman

Oleh Henri Nurcahyo

Masyarakat Betawi punya istilah tersendiri untuk menyebut pencak silat, yaitu “Maen Pukulan”. Disebut Maen Pukulan karena kegiatan ini menandakan ada unsur kesenangan lantaran semula memang hanya sebuah permainan (main, maen) dan bukan untuk menunjukkan kehebatan fisik atau sifat jago. Sedangkan kata “pukulan” lantaran gerakan dalam pencak silat ini didominasi pukulan tangan dan menabukan penggunaan kaki atau tendangan. Kalau toh ada tendangan hanya sebatas pusar ke bawah. Baca lebih lanjut

Wawancara Henri Nurcahyo oleh Henri Nurcahyo

Di kalangan seniman Jawa Timur, nama Henri Nurcahyo sudah cukup dikenal sebagai pengamat dan penulis. Namun kalangan aktivis LSM Lingkungan Hidup juga mengenal namanya. Sementara di sisi yang lain, nama yang sama juga berkibar sebagai wartawan di berbagai media massa. Baimanakah sebenarnya sosok lelaki yang satu ini?
Berikut ini adalah wawancara Henri Nurcahyo dengan Henri Nurcahyo  .

DSC_1453
Anda itu pekerjaannya apa?

Ini pertanyaan sepele yang sulit dijawab. Anak-anak saya kalau ditanya gurunya atau harus mengisi formulir juga suka bingung menulisnya. Kalau saya jawab “wartawan” pasti diikuti pertanyaan berikut “Wartawan apa? Nulis dimana? Koran apa? Jawa Pos yaa?” Kalau saya jawab “Penulis”, orang malah bingung. Mana ada pekerjaan kok “Penulis.” Malah ada yang mengira penulis itu sama dengan tukang leter, yang suka bikin papan nama itu. Atau Penulis Kaligrafi. Kalau dijawab “seniman” juga sulit menjelaskannya, sebab dikira sama dengan pelukis atau pemain teater. Saya tidak menyalahkan yang bertanya, tetapi sudah sejak lama sekali saya tidak mau terkotak-kotak oleh format apapun, termasuk pekerjaan. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer lewat tokoh Minke dalam novelnya “Bumi Manusia”: Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku adalah bumi manusia dengan segala persoalannya. Baca lebih lanjut

Obsesi Ayu Sutarto di Tepi Kali Bedadung

OLEH HENRI NURCAHYO

????????????????????????????????????

Prof. Ayu Sutarto, pembicara Kongres Kebudayaan Jatim 2015

Genap 100 hari Ayu Sutarto meninggal dunia. Budayawan dan akademisi yang tak kenal lelah itu harus mengakhiri aktivitasnya yang luar biasa pada tanggal 1 Maret 2016 yang lalu setelah koma hampir dua bulan. Bapak empat anak itu meninggalkan warisan sangat berharga, berupa perpustakaan berisi 15.000 buku lebih dan Yayasan Untukmu si Kecil (USK) yang masih terus aktif berkegiatan. Masih saja anak-anak bermain setiap Sabtu dan Minggu dan banyak mahasiswa yang meminjam buku untuk bahan studi. Baca lebih lanjut

Kampung Organik, Ekowisata dan Pendidikan Lingkungan

Jala-jalan - 1Berwisata di pedesaan itu banyak ragamnya. Menghirup udara segar, jalan-jalan menyusuri pematang sawah, menghayati pemandangan indah, menikmati makan dan minuman organik serta menyaksikan berbagai contoh budidaya organik di lahan terbuka maupun RSO (Rumah Sayur Organik). Bagaimana kalau sesekali merasakan menjadi petani, belajar bertani secara organik, atau mengolah sampah menjadi pupuk kompos?

Tertarik berwisata seperti itu? Cobalah berkunjung ke dusun Penanggungan, desa Penanggungan, Trawas, Mojokerto. Di situlah Kampung Organik “Brenjonk” berada. Sebuah komunitas desa yang sepenuhnya melakukan pertanian tanpa menggunakan pestisida dan pupuk kimia, bertani selaras dengan keseimbangan alam. Baca lebih lanjut

Tipudaya Mataram Menjebak “Ki Ageng Mangir”

01Lakon Ki Ageng Mangir sepertinya sudah identik dengan pergelaran ketoprak itu sendiri. Lakon ini sudah biasa dimainkan oleh ketoprak manapun, dan sepertinya sudah menjadi salah satu lakon wajib yang musti dihapal oleh siapapun yang mengaku sebagai orang ketoprak. Tidak terkecuali, pementasan yang disajikan oleh kelompok Sri Aji Kawedar dari Tuban dalam pementasan di Taman Krida Budaya Jatim, di Malang, Sabtu lalu (30/1/16). Baca lebih lanjut